Pin It
Search
Saturday 18 August 2018
  • :
  • :

Yuk, lihat-lihat peradaban aceh masa lalu di Museum Aceh

Bosan menghabiskan waktu libur di tempat-tempat itu aja, gunung, laut, pantai sekarang kamu udah bisa segera mencoba liburan sambil memperkaya wawasan ke acehan mu dengan mengunjungi museum aceh. Ingin mengenal lebih dekat peradaban masyarakat aceh tempo dulu, dengan berbagai bukti sejarah yang tersimpan aman di museum sebagai cerminan masyarakat aceh dari masa ke masa.

Museum seluas  10.800 m2 memiliki banyak koleksi peninggalan peradaban aceh masa lalu, mulai dari benda, literatur sampai dengan karya seni bernilai tinggi. Museum aceh merupakan museum di Indonesia yang memiliki koleksi benda paling banyak berbahan emas murni. Keren kan ? 😀 , tapi karena keamanan yang kurang memadai tidak semua koleksi dipajang dimuseum, apalagi benda-benda sejarah ini memiliki nilai tawar yang menggoda. Keamanan memang paling penting di meseum, untuk benda-benda seni paling berharga harus dilengkapi pengamanan ektra seperti di film-film dilindungi dengan berbagai sensor sampai dengan sandi acak secara berkala berteknologi tinggi. Untuk melindungi benda-benda tersebut sampai hari ini pihak museum belum memajang benda-benda seperti itu dimeseum, itu bisa dipahami, tapi kamu bisa juga melihat replikanya dipajang di museum.

Museum aceh beralamat di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah – Banda Aceh , dapat ditempuh dengan menggunakan kenderaan pribadi ataupun kenderaan umum. Memasuki gerbang museum kamu akan menjumpai Lonceng Cakra Donya, sebuah lonceng pemberian kerajaan china untuk sultan Iskandar Muda 1409 M. Lonceng dengan ketinggian 125 cm berdiameter 75 cm ini dipasang di armada laut kerajaan aceh saat menyerang portugis di Malaka.

Areal museum aceh memiliki beberapa bangunan, salahsatunya Rumoh Adat Aceh yang dibangun dan diresmikan pada tanggal 31 Juli 1915 oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A Swart. Arsitektur rumoh aceh merupakan bangunan rumah panggung dengan tinggi tiang antara 2,50 – 3 meter, terdiri dari tiga atau lima ruang, dengan satu ruang utama yang dinamakan rambat. Rumoh dengan tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan Rumoh dengan lima ruang memiliki 24 tiang. Pintu utama Rumoh Aceh tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa. Biasanya ketinggian pintu ini hanya berukuran 120-150 cm sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh harus menunduk. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk bersila di atas tikar ngom (dari bahan sejenis ilalang yang tumbuh di rawa) yang dilapisi tikar pandan. Rumoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Oleh karena itu, melalui Rumoh Aceh kita dapat melihat budaya, pola hidup, dan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Aceh.

Sementara bangunan paling kiri adalah museum yang memajang berbagai koleksi peradaban aceh masa lalu, mulai dari kesultanan sampai dengan moment MoU Helsinki. Pada lantai pertama museum terdapat koleksi-koleksi kebudayaan, sementara lantai 2 benda-benda pusaka sedangkan lantai 3 koleksi sejarah perang dan lantai 4 memajang koleksi benda-benda kehidupan sehari-hari masyarakat aceh tempo dulu.

Disetiap koleksi dilengkapi dengan penjelasan yang tentunya akan menambah wawasan kamu untuk mengenal aceh lebih dalam. Sebagai hasil kreativitas manusia, pada benda-benda koleksi tersebut tentunya mengandung nilai-nilai yang tercermin karakter dan jati diri masyarakat aceh baik perorangan maupun bersifat kolektif yang patut dinikmati, diperhatikan dan diambil pelajaran daripadanya. Aceh memang negeri yang penuh dengan unikan dan perbedaan yang mencolok dengan daerah lain, keanekaragaman, karakter dan budaya masa lalu perlu dipelajari dan diapresiasikan sebagai bentuk penghargaan akan tingginya nilai budaya dan sejarah yang diwariskan leluhur.

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna