Pin It
Search
Monday 22 July 2019
  • :
  • :

Tugu Perjuangan Teuku Peukan

Tugu Perjuangan Tugu Perjuangan Teungku Peukan terletak di Desa Meurandeh kecamatan Lembah Sabil Kabupaten Aceh Barat Daya. yang merupakan saksi sejarah perjuangan untuk mengusir penjajah pada tanggal 10 September 1926, dan beliau gugur dan dimakamkan di depan masjid Agung Blangpidie. jarak dari ibukota kabupaten 32 Km atau sekitar 25 menit perjalanan.Tugu ini dibangun untuk mengenang Teungku Peukan yang tewas tanggal 11 September 1926 dalam sebuah penyerangan ke Bivak/Tangse Belanda di Blangpidie.

Teungku Peukan merupakan seorang ulama yang berpengaruh dan kharismatik dan merupakan sosok pejuang perintis kemerdekaan.Pada masa konfrontasi kerajaan Aceh dengan Belanda, tahun 1905 Teuku Ben Mahmud dari Blangpidie telah melakukan penyerangan terhadap posisi Belanda di Meukek, Aceh Selatan. Serangan ini dipimpin oleh Teungku Idris yang menewaskan seorang pegawai sipil yang bernama Abdul Hamid. Pasca penyerangan, Teungku Idris ditangkap dan dibuang ke Ternate. Selanjutnya Teuku Ben Mahmud semakin sering menyerang posisi Belanda bahkan sampai Tapaktuan, Bakongan hingga ke perbatasan Sumatra Utara dengan serangan gerilya. Setelah Teuku Ben Mahmud ditangkap dan diinternir Belanda ke Maluku, perjuangan dari rakyat Aceh Barat Daya tidak kunjung padam dan seperti “apui lam seukeumâ.

Setelah Teuku Ben Mahmud diasingkan, tanpa diduga-duga terjadi perlawanan Teungku Peukan dari Manggeng yang juga menyerang tangsi Belanda di Blangpidie dalam Peristiwa 11 September 1926.’

Saat ini nama Teuku Ben Mahmud, Teungku Peukan dan pejuang lainnya di Aceh Barat Daya, kurang begitu populer di masyarakat. Para pejuang tersebut pernah menorehkan “tinta emas” bagi semangat kemandirian dan jatidiri dengan perlawanan rakyat di Aceh Barat Daya terhadap kolonial Belanda. Pada saat Belanda semakin kokoh posisinya, penyerangan sporadis Teungku Peukan dan pejuang lainnya mampu menghantam posisi tangsi marsose Belanda di kota Blangpidie dalam serangan yang dilakukan pada hari Jumâ’t tanggal 11 September 1926.

Serangan ini menjadi saksi dan jejak sejarah keheroikan para pejuang dari Aceh Barat Daya dalam menghadapi eksploitasi dan kolonialisasi.Berdasarkan literatur menyebutkan bahwa Teungku Peukan adalah seorang ulama yang karismatis di daerah zelfbestuur Manggeng. Kini Manggeng dan Lembah Sabil adalah nama kecamatan yang secara geografis berada di bagian timur wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya. Orangtua Teungku Peukan merupakan seorang ulama atau pemuka agama Islam yang bernama Teungku Padang Ganting sedangkan ibunya bernama Siti Zulekha. Teungku Peukan dilahirkan di Manggeng pada sekitar tahun 1886, yaitu ketika kerajaan Aceh telah mengalami fase awal peperangan dengan Belanda sejak penyerangan posisi pertahanan Aceh di Mesjid Baiturrahman pada tanggal 18 April 1873, karena kerajaan Aceh tidak menerima isi Perjanjian Traktaat Sumatera, yaitu suatu perjanjian antara Belanda dan Inggris dalam menentukan posisi mereka di Sumatera dan sekitar selat Malaka.

Berdasarkan putusan itu, Belanda merasa berhak menguasai Aceh karena masih merupakan wilayah Sumatera. Namun pihak kerajaan Aceh masih menghormati perjanjian Traktaat London yang membebaskan Aceh dalam melakukan perdagangan dengan negara-negara asing, khususnya Inggris, Turki, dan lain-lain.Teungku Peukan dilahirkan pada fase awal pergolakan Belanda melawan Aceh, hal ini tentu saja mempengaruhi watak beliau semasa dewasa. Terutama dalam pembentukan nilai dan spirit melawan kolonialisme dengan memberi stigma “kaphe” sehingga memeranginya adalah kewajiban bagi setiap muslim. Penolakan keberadaan dan pergolakan terhadap kolonial Belanda yang terbentuk secara psikologis mempengaruhi karakteristik masyarakat Aceh yang sangat antikolonial dengan menyebut mereka kafir (kaphe murakab).Berangkat dari figur orangtua seorang ulama yang karismatik di kenegerian Manggeng, yang menurunkan watak Teungku Peukan yang tinggi kecintaannya kepada agama dan negerinya seperti yang telah dianjurkan oleh agama Islam, sehingga kewajiban membela Islam dari kolonial sangat kentara mewarnai perjuangan Teungku Peukan.

Hal itu terlihat ketika persiapan menjelang penyerangan, di mana diadakan pembersihan diri dengan melakukan wirid dan zikir untuk memohon restu dari Allah SWT. Sebagai pemimpin agama dan elit masyarakat di Manggeng tentu saja membuat dimensi lain dari resistensi Teungku Peukan yang bernuansa jihad fisabilillah terhadap kolonialis Belanda di Aceh Barat Daya.

Kenyataan ini diwaspadai oleh Belanda karena kekuatan yang masih bertahan di Aceh hanyalah kekuatan dari ulama seperti Teungku Dayah, Teungku Rangkang dan Teungku Meunasah, karena bangsawan sudah dapat €œdipengaruhi” dengan pemberian fasilitas dan akses yang besar dalam penguasaan pungutan belasting atau pajak dan juga sistem penyelesaian sengketa di dalam masyarakat di wilayah uleebalangnya, sehingga masyarakat cenderung menjadi oposisi terhadap bangsawan karena kebijakan represifnya.Posisi Teungku Peukan sebagai leader of spiritual dalam masyarakat di Manggeng menghadapi kolonial Belanda, menjadi pemicu peningkatan moralitas para pendukungnya. Figur ulama menjadi barometer atau motor utama dalam resistensi terhadap kolonialisme di Aceh Barat Daya, di samping perjuangan yang digerakkan oleh kaum feodal atau bangsawan. Namun setelah Belanda berhasil melakukan pengkajian terhadap peta kekuatan dan melihat dua sisi internal yang sangat berpengaruh di dalam masyarakat Aceh yaitu teungku/pemimpin agama dan uleebalang sebagai pemimpin adat.

Kedua kekuatan itu dianggap seperti dua sisi mata uang yang saling berkaitan erat antara satu sisi dengan sisi lainnya, sehingga keduanya harus “dipressure” agar mau bekerjasama.Pengaruh ajaran Islam sangat besar dalam menggerakkan resistensi terhadap kolonial. Islam telah mewanti-wanti kewajiban seseorang atau kaum untuk membela diri, agama dan tanah air hingga ke tetes darah penghabisan dengan imbalan surga sebagai “reward”. Hal inilah yang membuat perang di Aceh menjadi unik dan spesifik ketika melawan kolonial Belanda, yaitu perang terbesar dan terpanjang dalam sejarah di wilayah Indonesia.Kondisi ini juga diwaspadai Belanda sehingga perlu dipisahkan kekuatan yang telah menyatu tersebut sebagai upaya menjaga kontrol hegemoni dari kolonial untuk kelanggengan posisinya di Aceh Barat Daya.

Upaya mereka terlihat dengan adanya rekrutmen intelijen dan spionase dari masyarakat untuk memantau aktivitas dakwah Teungku Peukan yang dianggap dapat mengancam posisi Belanda di sana. Ulah intelijen dan spionase lokal yang digunakan Belanda tersebut, bermuara kepada pemboikotan terhadap aktivitas-aktivitas dakwah yang dilakukan Teungku Peukan di sekitar kenegerian Manggeng.Taktik devide et impera sangat ampuh diterapkan Belanda di Aceh Barat Daya, namun belum berhasil membangkitkan amarah Teungku Peukan untuk segera melakukan resistensi. Padahal beberapa kerabat Teungku Peukan ingin menyegerakan resistensi terhadap kolonial tersebut. Belanda terus memancing amarah Teungku Peukan dengan pengajuan penarikan pajak tanah atau belasting yang sudah tiga tahun dibebaskan oleh uleebalang Manggeng kepadanya. Teungku Peukan tetap tidak mau membayar pungutan belasting tersebut. Berdasarkan alasan inilah kolonial Belanda berkeinginan menangkap Teungku Peukan untuk diadili. Namun, beliau terlebih dahulu menyiapkan siasat dengan menyerang secara ofensif tangsi Belanda melalui pengerahan massa, terutama mereka yang beroposisi dengan uleebalang Manggeng. Dalam penyerangan ini Teungku Peukan dibantu kerabat dan simpatisannya.

Referensi : http://anisabulah.blogspot.com

Facebook Comments