Pin It
Search
Friday 24 November 2017
  • :
  • :

Ternyata ada 9 Bahasa Daerah di Aceh

Aceh terdiri dari sembilan suku dimulai dari suku Aceh (mayoritas), Tamiang (Kabupaten Aceh Timur Bagian Timur), Alas (Kabupaten Aceh Tenggara), Aneuk Jamee (Aceh Selatan), Aneuk Laot, Gayo (Aceh Tengah), Simeulue dan Sinabang (Kabupaten Simeulue). Masing-masing suku mempunyai budaya, bahasa dan pola pikir masing-masing.

Setiap suku memiliki bahasa masing-masing, bahkan beberapa bahasa diantaranya sudah jarang digunkan dan diprediksi akan segera lenyap seperti bahasa haloban yang ada di simeulue dan kepulan banyak singkil.

Berikut ke 9 Bahasa yang ada di Aceh sampai sekarang.

Bahasa Aceh

Bahasa Aceh merupakan bahasa yang banyak digunakan masyarakat aceh pada umumnya, hampir 70% dari total penduduk aceh menggunakan bahasa aceh dalam berkomunikasi sehari-hari. Bahasa aceh memiliki dialek yang berbeda-beda seperti dialek pidie, aceh besar dan aceh selatan serta aceh utara, dialek yang akan menjadi identitas seseorang bila sedang berkomunikasi.

Bahasa Aneuk Jamee

Bahasa jamee berasal dari daerah Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya dan masih menjadi bahasa sehari-hari masyarakat disana. Bahasa Jamee juga sering di istilahkan dengan bahasa Baiko karena banyak kosa kata dalam bahasa jamee memiliki huruf vokal “o”.

Bahasa Kluet

Bahasa Kluet merupakan bahasa Ibu bagi masyarakat Suku Kluet yang mendiami beberapa kecamatan di Aceh Selatan. Bahasa ini berpusat di beberapa daerah seperti Kecamatan Kluet Utara, Kluet Tengah, Kluet Selatan dan Kluet Timur.

Bahasa Alas

Bahasa ini kedengarannya lebih mirip dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat etnis Karo di Sumatera Utara. Masyarakat yang mendiami kabupaten Aceh Tenggara, di sepanjang wilayah kaki gunung Leuser, dan penduduk di sekitar hulu sungai Singkil di kabupaten Singkil, merupakan masyarakat penutur asli dari bahasa Alas.

Bahasa Gayo

Bahasa ini diyakini sebagai suatu bahasa yang erat kaitannya dengan bahasa Melayu kuno, meskipun kini cukup banyak kosakata bahasa Gayo yang telah bercampur dengan bahasa Aceh. Bahasa Gayo merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Aceh yang mendiami kabupaten Aceh Tengah, sebahagian kecil wilayah Aceh Tenggara, dan wilayah Lokop di kabupaten Aceh Timur. Bagi kebanyakan orang di luar masyarakat Gayo, bahasa ini mengingatkan mereka akan alunan-alunan merdu dari syair-syair kesenian didong.

Bahasa Haloban

Bahasa Haloban adalah salah satu bahasa daerah Aceh yang digunakan oleh masyarakat di kabupaten Singkil, khususnya mereka yang mendiami Kepulauan Banyak, terutama sekali di Pulau Tuanku.  Jumlah penutur bahasa Haloban sangat sedikit dan jika uapaya-upaya untuk kemajuan, pengembangan serta pelestarian tidak segera dimulai, dikhawatirkan suatu saat nanti bahasa ini hanya tinggal dalam catatan-catatan kenangan para peneliti bahasa daerah.

Bahasa Devayan

Seperti halnya bahasa Kluet, informasi tentang bahasa Singkil, terutama sekali dalam bentuk penerbitan, masih sangat terbatas. Bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi sebagian masyarakat di kabupaten Singkil. Dikatakan sebahagian karena kita dapati ada sebagian lain masyarakat di kabupaten Singkil yang menggunakan bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, ada yang menggunakan bahasa Minang, dan ada juga yang menggunakan bahasa Dairi (atau disebut juga bahasa Pakpak) khususnya di kalangan pedagang dan pelaku bisnis di wilayah Subulussalam.

Bahasa Simeulue

Bahasa Simeulue adalah salah satu bahasa daerah Aceh yang merupakan bahasa ibu bagi masyarakat di pulau Simeulue dengan jumlah penuturnya sekitar 60.000 orang.  Bahasa ini memiliki dua dialek, yaitu dialek Devayan yang digunakan di wilayah kecamatan Simeulue Timur, Simeulue Tengah dan di kecamatan Tepah Selatan, serta dialek Sigulai yang digunakan oleh masyarakat di wilayah kecataman Simeulue Barat dan kecamatan Salang.

Bahasa Tamiang

Bahasa Tamiang (dalam bahasa Aceh disebut bahasa Teumieng) merupakan variant atau dialek bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat kabupaten Aceh Tamiang (dulu wilayah kabupaten Aceh Timur), kecuali di kecamatan Manyak Payed (yang merupakan wilayah bahasa Aceh) dan kota Kuala Simpang (wilayah bahasa campuran, yakni bahasa Indonesia, bahasa Aceh dan bahasa Tamiang). Hingga kini cita rasa Melayu masih terasa sangat kental dalam bahasa Tamiang.

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna