Pin It
Search
Monday 18 June 2018
  • :
  • :

Tarek Pukat Laboh : Para Nelayan Tradisional

Tarek pukat bukan hanya dikenal di Aceh. Budaya tarek pukat ternyata banyak juga dijumpai di beberapa Negara tetangga Indonesia. Bahkan hampir semua pantai di dunia, warga menangkap ikan diawali sistem tarek pukat (laboh darat). Misalnya, di Thailand, Philipina, bahkan beberapa negara di Afrika dan Eropa. Mungkin yang membedakan cara tarek pukat di pantai Meureudu, Pidie Jaya, tempat kelahiran Syeh Lah Banguna. Perbedaan hanya pada penggunaan teknologinya. Namun cara dan sistem cari ikan di bibir pantai tetap sama yaitu menjaring ikan-ikan kecil yang suka bermain di seputar pecahan ombak.

Budaya tarek pukat itu sederhana saja, yaitu pada saat sampan menuju ke laut dengan putaran busur 90 derajat. Satu anggota di ujung barat (rendok) memegang ujung tali yang terhubung dengan jaring ikan. Setelah sampan itu turun ke arah kiri (lamat), semua anggota di dalam sampan besar antara 10 sampai 16 orang itu, turun sambil menarik tali yang terhubung dengan jaring ikan. Sementara sang pawang kembali ke laut untuk mengarah kedua titik para penarik pukat itu

Pembentukan Hukom Adat Laot tersebut  tidak terlepas dari sistem pengetahun atau persepsi masyarakat setempat  terhadap pemeliharaan laut. Mereka sadar bahwa merusak laut juga dapat merusak  sumber mata pencaharian mereka. Pada umumnya masyarakat lokal memiliki persepsi mengenai  lingkungan baik melalui pengalaman atau pengetahuan yang diwarisi secara  turun-temurun dari para leluhur yaitu bagaimana mereka harus beradaptasi, mengelola, dan memanfaatkan lingkungan. Penggunaan  alat-alat penangkapan ikan tradisional seperti pukat aceh ini merupakan  salah satu bentuk kepedulian para nelayan di Aceh terhadap pemeliharaan  lingkungan laut.

Facebook Comments