Pin It
Search
Sunday 25 June 2017
  • :
  • :

Seniman Hikayat Aceh : Muda Balia

Seniman Hikayat Aceh Muda Balia memadukan Hikayat Bansi Selatan dan Suling Gayo untuk pengunjung pameran foto karya anak korban tsunami Aceh dan Thailand. Kegiatan yang akan dimainkan Teguh Mulyana ini akan dilaksanakan di Kapal PLTD Apung, Punge Blang Cut, Banda Aceh, Sabtu, 27 Desember 2014 lalu. Sosok Senima Aceh bernama Balia dengan nama asli Muda Balia. Ia lahir tahun 1980. Ia tak tahu tanggal kelahirannya. “Orangtua saya tak pernah mencatatnya. Kami keluarga petani sederhana di desa,” ujarnya.

 

Muda tak punya darah seni dari orangtuanya. Perkenalan dia dengan hikayat dimulai dari menonton pertunjukan hikayat pada hajatan perkawinan atau khitan di desanya. “Sejak kecil saya suka melihat hikayat. Saya sampai hafal syair-syair yang dimainkan bapak-bapak pemain hikayat,” katanya. Namun, orangtua melarang dia belajar seni hikayat. Saat itu nyaris tak ada anak muda yang memainkan hikayat, selain karena hikayat tak bisa dijadikan gantungan hidup. “Banyak seniman hikayat yang mati tiba-tiba. Itulah alasan bapak melarang saya belajar hikayat,” ungkapnya tentang situasi saat itu.

Ketika duduk di kelas IV SD, dia mendapat tawaran bermain hikayat di rumah tetangga yang menggelar hajatan khitanan. Sang tetangga mengundangnya setelah melihat Muda memainkan syair hikayat di pinggir jalan. “Sejak saat itu saya dipanggil Muda Balia, satu-satunya pemain hikayat muda.”
Namun, pentas pertama Muda itu berakhir tragis. Bapaknya mendatangi panggung dan memaksanya pulang. “Bapak marah karena tak suka saya bermain hikayat,” kenangnya.

Awal 1990-an Muda menyelesaikan SD dan tak melanjutkan pendidikan karena ketiadaan dana. Tiga bulan setelah dia lulus SD, bapaknya meninggal dunia. Muda harus mencari nafkah. Di sela-sela mencari kayu bakar di hutan, sesekali ia bermain hikayat. Tahun 1996 seniman hikayat tua asal Aceh Barat Daya, Tengku Zulkifli merekrutnya sebagai murid. Siang dia bekerja di ladang dan malam berlatih hikayat. Dua tahun belajar dengan Tengku Zulkifli, pada 1998 ia pindah ke Takengon. Masa konflik Aceh memaksanya berjuang dari hutan ke hutan.

Tahun 2002 ia ke Banda Aceh dengan tujuan menekuni seni hikayat. Ini tak mudah karena masyarakat enggan memanggungkannya, bahkan sebagian tak kenal hikayat Aceh. Ia lalu bergabung dengan komunitas seniman. Beberapa kali ikut festival seni tradisi lisan tingkat nasional dan internasional, penghargaan pun beberapa kali didapatnya. Namun, apresiasi pada penguasaan seninya nyaris kosong. jangankan bantuan menerbitkan buku, membuat pentas seni hikayat berkala saja tak terealisasi.

“Meudak kajakjak beulaku linggang Meudak kamu pinggang beulaku ija Meudak kamu mungui bulaku tuboehMeudak kapajoeh belaku harta Bek kapajoeh harta harta riba Bek kajakrot harta harta riba”

(Jika jalan, berjalanlah apa adanya
Jika berbusana janganlah berlebihan
Jika berpakaian, sesuaikan ukuran tubuh
Jika makan, ambil dari hartamu sendiri
jangan makan harta orang lain
Jangan makan harta harta riba)

Itulah sepenggal bait hikayat Aceh kuno dalam kisah Dangderia. Ini merupakan satu dari ribuan hikayat Aceh yang berisi ribuan bait kisah dan nasihat dari seorang tokoh fiksi bernama Dangderia. OLEH M BURHANUDINSore itu hikayat bijak turun-temurun tersebut terlantun indah dari bibir Tengku Muda Balia, satu dari segelintir seniman hikayat Aceh klasik yang masih tersisa. bagi Muda, panggilannya, bait Dangderia amat bernilai. “Kunci kebahagiaan, keselamatan, dan hidup damai di dunia ini adalah jika kita tak makan harta orang lain. Ini sudah dinasihatkan orang tua kita, termasuk lewat hikayat. Namun, banyak orang yang melupakannya,” katanya. Dahulu hikayat bagi masyarakat Aceh tak sekadar tontonan. Hikayat merupakan tuntunan. Melalui hikayat, ulama berdakwah, istana menyampaikan kebijakan , dan orangtua berpetuah kepada anaknya.

“Hikayat ibarat sampan. dari hikayat disampaikan informasi, moral, dan semangat. Istilahnya, radio ‘bergigi’ dan seniman hikayat medianya,” katanya.
Peran seniman hikayat pun melintas deru perang. Pada zaman penjajahan Belanda, seniman hikayat berperan membangkitkan semangat juang pejuang Aceh. Sejak itu ribuan bait hikayat tentang perang Aceh tercipta. Belanda pun membenci seniman hikayat sebagaimana mereka membenci kegigihan orang Aceh berperang.

Pada masa kemerdekaan, seni asli Aceh ini justru kian terpinggirkan. Bermula dari tuduhan miring pemerintahan Orde Baru atas keterlibatan seniman hikayat dalam Partai Komunis Indonesia, banyak seniman yang diberangus. “alhamdulillah, di Aceh Selatan masih tersisa beberapa seniman generasi barudari sana, termasuk Tengku PM Toh dan muridnya,” katanya. Namun, suasana konflik membuat seni hikayat terpinggirkan di panggung dan tutur masyarakat Aceh. Kini di Aceh Selatan tinggal enam seniman yang menguasai hikayat klasik. “Mereka umumnya berusia lanjut. Regenerasi sulit karena minimnya kesempatan tampil seniman dan makin jarangnya anak muda yang tertarik hikayat Aceh.”

Muda adalah satu-satunya seniman muda hikayat Aceh yang menguasai teks lama. Ia berasal dari Aceh Selatan dan sejak tahun 2002 tinggal di Banda Aceh. Nama Muda menghiasi pemberitaan media lokal bulan Januari 2010 saat ia mencetak rrekor Muri. Kala itu ia melantunkan hikayat Aceh selama 26 jam nonstop. Namun, setelah itu masyarakat seperti melupakannya, sebagaimana seni hikayat yang kian hilang. Muda mengisi hari-harinya menjaga kedai kopi sebagai penopang hidup diri dan keluarganya. “Seni hikayat tak bisa menjadi gantungan hidup. Kadang sebulan sekali ada yang mengundang, terkadang lima bulan tak ada undangan,” katanya.

Meski demikian, ia tetap setia pada hikayat Aceh. Selain sesekali manggung, Muda tengah menulis tetang kisah hikayat. Dia berharap buku berjudul Hikayat Maksan, Hana di Pateh Judoe Bak Jaroe Tuhan (Maksan Yang Tak Percaya Jodoh di Tangan Tuhan) itu bisa diterbitkan menjadi buku. “Saya tak punya uang untuk mencetak dan menerbitkannya sendiri.”
Sebenarnya Muda ingin menuliskan ribuan hikayat klasik yang masih dihafalnya dalam buku. Namun, ketiadaan dana dan kesibukan mencari nafkah membuat dia tak kunjung mewujudkan keinginan keinginan itu. Meski di Aceh relatif sulit mencari orang yang hafal teks hikayat klasik.
“Saya prihatin, hikayat klasik semestinya menjadi buku. Saya mau menulis buku hikayat, tetapi siapa yang menanggung biaya keluarga kalau saya tak bekerja? saya tak punya waktu. Padahal, hikayat itu banyak sekali. Kalau dimainkan tujuh hari tujuh malam tak habis,” katanya.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 31 MEI 2011

Facebook Comments