Pin It
Search
Thursday 17 August 2017
  • :
  • :

Sejarah Meuligoe Gubernur Aceh

Pendopo Gubernur Aceh ini dibangun pada tahun 1880 M di bekas peninggalan kerajaan Sultan. Pendopo merupakan salah satu pembangunan awal kolonial Belanda di Aceh. Pendopo ini awalnya merupakan bangunan bekas kediaman gubernur Belanda dan sekarang menjadi Rumah Dinas Gubernur Aceh. Invasi militer Belanda ke Aceh mulai dilakukan setelah penandatanganan perjanjian London 1871 antara Inggris dan Belanda. Salah satu pasal dari perjanjian tersebut menyatakan, Inggris memberikan kekuasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan terhadap Aceh. 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh.

Dikirimlah Mayor Jenderal JH Rudolf Kohler memimpin ekspedisi Belanda pertama untuk menaklukkan Aceh dengan membawa sejumlah pasukannya. Mereka menjejak di bumi Nanggroe pada 6 April 1873, sayang Kohler sepertinya kurang beruntung. Setelah menduduki Masjid Baiturrahman, seminggu setelah kedatangannya; Kohler terkapar di halaman mesjid itu. 14 April 1873, Kohler tewas terkena terjangan peluru dari seorang sniper Aceh.


Pada 1877 pemerintah Hindia Belanda merasa perlu untuk menempatkan seorang pemimpin militer di Aceh yang merangkap sebagai petinggi sipil untuk mengatur strategi ekspansi Belanda di bumi Serambi Mekkah. Karel van der Heijden pun diangkat menjadi Gubernur merangkap Panglima Militer Belanda yang pertama untuk Aceh.

Demi kelancaran urusan administrasi antara pemerintah pusat, Aceh dan wilayah jajahan lainnya; van der Heijden mengambil inisiatif untuk membangun sebuah bangunan yang menjadi pusat pemerintahan di Kutaraja. Sebuah bangunan bergaya Eropa dan Aceh pun dibangun di atas tanah di dalam bekas lingkungan Keraton Kesultanan Aceh.


Bangunan megah yang masih tegak berdiri itulah Meuligo Aceh atau Mahligai Aceh yang fungsi bangunannya tak bergeser sesuai dengan tujuan awal pendiriannya. Menjadi rumah tinggal gubernur jenderal semasa pemerintahan Hindia Belanda hingga sekarang masih difungsikan sebagai rumah dinas Gubernur Aceh. Meski tak mendapat ijin untuk melongok hingga ke bagian dalam, hati terpuaskan selonjoran di ubin yang dingin menikmati semilir angin di serambi pendopo ini.
Redaksi: perempuankeumala.wordpress.com

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna