Pin It
Search
Saturday 18 November 2017
  • :
  • :

Sejarah di Balik Pesona Pantai Cermin

Matahari sudah hilang di balik bukit yang menjulang. Rona jingga menyala sekarang sudah berganti dengan biru pekat. Kerlap-kerlip lampu kota berpacu dengan suara-suara binatang kecil yang menyenandungkan lagu malam. Para penjaja jasa penyewaan ban mulai menarik ban-ban nya dari permukaan laut. Tapi di kejauhan pemancing malah semakin ramai mengisi syaf-syaf rob yang memanjang horizontal di bibir laut Ulee Lheu. Saya dan dua orang teman lainnya tak ingin berlarut menikmati pesona senja.

Saya masih teringat sebuah cerita tentang perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Mengambil latar Pantai Ceureumen di Ulee Lheu, cerita itu mengangkat kisah perang dengan balutan romansa cinta dan persahabatan serta kecintaan akan Bumi Aceh. Kala itu Belanda datang menyerang Aceh.¬†Pada akhir November 1871, lahirlah apa yang disebut dengan Traktat Sumatera, dimana disebutkan dengan jelas “Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk perasaan terhadap perluasan kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatera. Pembatasan-pembatasan Traktat London 1824 mengenai Aceh dibatalkan.” Sejak itu, usaha-usaha untuk menyerbu Aceh makin santer disuarakan, baik dari negeri Belanda maupun Batavia. Para Ulee Balang Aceh dan utusan khusus Sultan ditugaskan untuk mencari bantuan ke sekutu lama Turki. Namun kondisi saat itu tidak memungkinkan karena Turki saat itu baru saja berperang dengan Rusia di Krimea. Usaha bantuan juga ditujukan ke Italia, Perancis hingga Amerika namun nihil. Dewan Delapan yang dibentuk di Penang untuk meraih simpati Inggris juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan alasan ini, Belanda memantapkan diri menyerag ibukota. Maret 1873, pasukan Belanda mendarat di Pantai Cermin Meuraksa menandai awal invasi Belanda Aceh.
 Sekarang Pantai Cermin seperti kehilangan namanya, Sebutan Pantai Cermin lebih disebut Pantai Ule Lheu.
Walau habis diterjang ombak tsunami,tak menjadikan pantai ini hilang pesonanya, pantai Ulee Lheue ini masih terlihat sangat indah dan bahkan sudah mulai cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat lokal termasuk pula wisatawan asing. Sudah dibangunnya tanggul pengaman dan jalan dua jalur yang menuju pelabuhan penyeberangan Ulhe Lhee, menambah akses ke tempat ini semakin mudah dan nyaman untuk dikunjungi. Pantai Cermin Ulee Lheue hanya berjarak sekitar 3 Km dari pusat kota Banda Aceh, sehingga akses transportasi tidaklah sulit. Dengan kualitas jalan aspal yang lebar serta hotmix dan didukung jasa transportasi umum seperti becak motor, labi-labi (sejenis angkot/ mikrolet), ataupun taxi, untuk menuju Pantai Cermin Ulee Lheue sangatlah mudah.
Pelabuhan Ulee Lheue
Tidaklah heran jika pengunjung ramai ke pantai ini. Suasana pemandangan yang diberikan pantai memang sangat indah,dengan panorama perbukitan yang menghijau mampu menambah kecantikkan alam daerah ini. Bahkan disaat air laut sedang surut maka akan tampak batuan-batuan karang yang menimbul ke permukaan air. Selain menikmati pemandangan pantai Ulee Lheue ini,pengunjung dapat pula mencoba wahana permainan air yang tersedia,salah satunya yaitu perahu angsa. Sepanjang jalan daerah pantai Ulee Lheue ini pengunjung pun akan banyak menemui penjual jagung bakar. Pengunjung dapat duduk santai menikmati pemandangan di pantai sambil menikmati jagung bakar.
Selain dapat menikmati keindahan suasana pantai,pengunjung dapat pula memancing ikan di sekitar pantai, jika tertarik untuk memancing di lautnya,pengunjung bisa menyewa perahu nelayan setempat dengan harga yang bisa ditawar
Facebook Comments