Pin It
Search
Sunday 20 August 2017
  • :
  • :

Rapai, warisan budaya dari abad ke 11

RAPAI adalah alat musik perkusi tradisional Aceh yang termasuk dalam keluarga frame drum, yang dimainkan dengan cara dipukul dengan tangan tanpa menggunakan stick. RAPAI sering digunakan pada upacara-upacara adat di Aceh seperti upacara perkawinan, sunat rasul, pasar malam, mengiringi tarian, hari peringatan, ulang tahun dan sebagainya, dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh baik secara filosofïs atau kultural. Rapai berperan mengatur tempo, ritmik, tingkahan, gemerincing serta membuat suasana menjadi lebih hidup dan meriah. Alat itu mendukung chorus (melodi) dari Serune Kalee atau buloh merindu (alat tiup berinterval nada diatonis).

acehplanet_rapai2

Ada pameo yang sering terdengar berisikan “peunajoh timphan, piasan rapai” yang artinya makanan khas orang Aceh adalah timpan (sejenis kue dari bahan tepung beras di dalamnya berisi kelapa dan gula aren, atau berisi sarikaya/aso kaya telur, dibungkus dengan daun pisang muda dan dikukus), kemudian piasan rapai yang diartikan sebagai alat musik hiburan adalah rapai.

Berdasarkan naskah syair yang dinyanyikan bersama RAPAI, alat musik pukul ini berasal dari Syeh Abdul Kadir Jailani, ulama besar fiqih dari Persia yang hidup di Baghdad dari tahun 1077 hingga 1166 Masehi ( 470-560 Hijriah). Syair itu menyebut (dalam bahasa Indonesia):

Dilangit tinggi bintang bersinar

Cahaya bak lilin memancar kebumi

Asal rapai dari Syeh Abdul Kadir

Inilan yang sah penciptanya lahir kebumi.

Rapai dibawa oleh seorang penyiar Islam dari Baghdad bernama Syeh Rapi (ada yang menyebut Syeh Rifai) dan dimainkan untuk pertama kali di Ibukota Kerajaan Aceh, Banda Khalifak (sekarang Gampong Pandee, Banda Aceh) sekitar abad ke-11.

Rapai dimainkan secara ensemble yang terdiri dari 8 sampai 12 orang pemain yang disebut awak rapai dan disandingkan dengan instrumen lain seperti serune kalee atau buloh merindu. Permainan dari ensemble Rapai tersebut dapat menjangkau pendengaran dari jarak jauh akibat gema yang dipantulkannya dan tidak memerlukan microphone untuk setiap penampilannya bahkan pada malam hari di daerah pedesaan bisa mencapai pendengaran dari jarak 5-10 km.

Macam-macam jenis RAPAI:

  1. Rapai Daboih
  2. Rapai Gerimpheng
  3. Rapai Pulot
  4. Rapai Pase
  5. Rapai Anak/tingkah
  6. Rapai Kisah/hajat

 

Daboih (dari bahasa Arab Dabbus), artinya sejenis permainan/pertunjukan ketangkasan yang mempertontonkan kesaktian seorang pemain yang kebal terhadap senjata dari besi runcing. Awak daboih dipimpin seorang khalifah yang memiliki ilmu kebal, ahli makrifat besi, sehingga badannya tak mempan tusukan benda tajam, dapat melilitkan rantai besi panas keieher, badan atau pinggang, menari dalam api (bloh lam apui) dan sebagainya. Rapai yang mengiringi permainan Daboih disebut RAPAI DABOIH.

Dalam pertunjukan Rapai Daboih ini, pada waktu “Saleum” (salam) Rapai dimainkan membentuk ritmik tempo lambat (andante) dengan kisah atau syair diucapkan penabuh dabus. Kemudian ketika masuk ke bagian syair “Wamole“, tempo Rapai berubah menjadi tempo sedang (moderato). Pada bacaan syair “Amanah guru,” pukulan rithmik menjadi agak cepat (allegro), dan pada syair “Nyo he rakan,” tempo rapai menjadi Allegreto (cepat).

Rapai gerimpheng dilakukan secara duduk. Dimulai dengan memberi salam, lalu menjuruskan tangan kedepan, melenggokan badan kesamping kiri dan kanan secara serentak, kemudian peh (pukul) rapai untuk mengiringi ratoih (lagu).

Rapai pulot awalnya dimulai dengan ratoih (lagu) sebagai salam perkenalan, kemudian dilanjutkan dengan penampilan akrobatik dan keahlian membentuk lingkaran bersambungan antara sesama para pelakunya. Mereka melakukan gerakan-gerakan jungkiran meliuk-liukkan badan, membentuk permainan tali, dan kemahiran senam.

acehplanet_rapai3

Rapai pase (terdapat di Aceh Utara) dengan formasi pemukulnya 30 buah rapai , sedang 15 buah dan formasi kecil 10/12 buah. Selain ukuran rapai biasa (rapai daboih) ditambah lagi dengan ukuran rapai besar (rapai induk/pase) yang dimainkan harus digantung karena ukurannya yang besai dan sangat berat.

Para memukulnya pun harus berdiri, khusus membawakan rithmik saja, tanpa interval nada, dibawakan lagu/syair berbau keagamaan, nasehat, upacara gembira, adat-adat perayaan, sunat Rasul, maulid dan upacara lain secara Islam. Ada kalanya diadu (ditunangkan) antar group, dengan kriteria penilaian pada tingkahan, irama rapai, bunyi, dan membalas jawaban pantun lawan. Dahulu dimulai malam sampai pagi hari dengan busana adat Aceh.

Rapai anak/tingkah, merupakan rapai dengan ukuran sedikit lebih kecil, berfungsi mengadakan tingkahan, karena suaranya lebih nyaring dan mendenting, sehingga tekanan tanda accent/attack (clear beats) lebih jelas kedengarannya.

Rapai kisah/hajat, mengisahkan/menyanyikan sesuai dengan hajat/permintaan yang punya rumah sendiri, lalu syeh rapai bersama-sama dengan pemain lainnya berlagu mengisahkan/mensyairkan seraya diikuti irama tingkahan rapai.

 

www.acehmusician.org

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna