Pin It
Search
Wednesday 23 September 2020
  • :
  • :

Pocut Baren : Jilid III

Pocut Baren Tertangkap

Setelah serdadu Belanda diperkuat dan didatangkan bala bantuan dari Batavia (Jakarta), maka penyerbuan terhadap benteng pertahanan Pocut Baren di Gunung Macanpun dimulai secara besar-besaran. Pasukan Belanda dipimpin sendiri oleh Letnan Hoogers berusaha menggempur benteng pertahanan Pocut Baren dengan dahsyatnya. Sebaliknya, pasukan Pocut Baren berusaha mempertahankan benteng Macan itu dengan gigihnya. Namun demikian, seperti kata pepatah “malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih”, Pocut Baren tertembak oleh pasukan musuh dengan luka yang cukup parah. Dengan luka dikakinya itulah maka Pocut Baren berhasil ditangkap serdadu Belanda. Kemudian ia dibawa ke Meulaboh sebagai tawanan perang. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1910 yang menandai

berakhimya perlawanan seorang pejuang wanita asal Tungkop, Aceh Barat.

(Zentgraaff, 1982/1983 : 138; Doup, 1940 : 204). Luka dikakinya semakin parah, sehingga sulit untuk dapat disembuhkan. Upaya untuk menyembuhkan harus dilakukan oleh tim dokter Belanda yang berada di Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Untuk proses pengobatan itu, maka Pocut Baren diboyong ke Kutaraja. Mengingat lukanya yang sudah parah, maka tim dokter yang merawatnya terpaksa melakukan amputasi, kaki Pocut Baren dipotong. Wanita itu dengan tegar menerima kenyataan pahit yang harus dihadapinya.

Selama berada di Kutaraja, Pocut Baren diperlakukan sebagaimana layaknya seorang tawanan perang dan seorang uleebalang. Masa-masa berada di tahanan Belanda, merupakan masa penantian yang dirasakan amat panjang dan menyiksa batinnya. Van Daalen yang menjabat Gubernur Militer Aceh dan daerah takluknya, menjatuhkan hukuman buang ke Pulau Jawa. Mengetahui hukuman itu, seorang perwira penghubung bangsa Belanda, T.J. Veltman menyampaikan saran kepada Gubernur Militer yang bersangkutan agar Pocut Baren jangan dibuang ke Pulau Jawa, tetapi dikembalikan saja ke daerah asalnya sebagai uleebalang di daerah Tungkop. Dengan diangkatnya Pocut Baren sebagai uleebalang di Tungkop, diharapkan perlawanan rakyat di daerah tersebut dapat dihentikan. Saran tersebut akhirnya diterima oleh Van Daalen.

Dengan kembalinya Pocut Baren ke daerah asalnya sebagai uleebalang Tungkop, maka berakhirlah perlawanan total wanita itu. Pahlawan yang sangat menyulitkan Pemerintah Kolonial Belanda seperti yang terbukti dari sejumlah nama pemimpin pasukan patroli Belanda yang mendapat tugas untuk memburunya. Hal tersebut diakuii sendiri oleh Doup: “Para pemimpin patroli pemburu Pocut Baren adalah tokoh-tokoh Belanda yang terkemuka dan terkenal amat berpengalaman dalam pertempuran. Hal ini menunjukkan bahwa wanita itu memang dianggap sebagai lawan tangguh bagi Belanda. Mereka itu antara lain adalah Letnan J.H.C. Vastenon, Letnan O.O. Brewer, Letnan W. Hogers, Kapten T.J. Veltman, Kapten A. Geersema Beckerrigh, Kapten F. Daarlang, Letnan A.H. Beanewitz, Letnan H.J. Kniper, Sersan Teutelink, Sersan van Daalen, Sersan Bron, Letnan C.A. Reumpol, Letnan W.v.d. Vlerk, Letnan W.L. Kramers, Letnan H. Scheurleer, Letnan Romswinkel, Sersan Duyts, Sersan de Jong, Sersan Gackenstaetter dan lain-lain, Gubemur Sipil dan Militer Van Daalen telah merubah status hukuman Pocut Baren sesuai dengan saran T.J. Veltman. Dengan pengubahan itu maka wanita itu dapat kembali ke daerahnya menjadi Uleebalang Tungkop.

Setelah dinyatakan sembuh dari lukanya dan diyakini tidak akan melakukan perlawanan lagi, Pocut Baren dikirim ke Tungkop. Veltman telah memberikan jasa baiknya kepada wanita pejuang itu. la pula yang mengusulkan agar Pocut Baren diangkat menjadi uleebalang Tungkop dan dipercaya untuk membangun daerahnya yang porak poranda sebagai akibat adanya peperangan yang berlarut-larut. Veltman yang fasih berbahasa Aceh berusaha melakukan kontak yang terus-menerus dengan wanita itu, sehingga ia dapat membuat laporan keadaan mengenai perubahan yang terjadi mengenai diri wanita itu. Apalagi ia adalah seorang wanita yang jujur dan suka berterus terang, suatu sikap yang amat dihargai oleh Veltman. Membangun Perekonomian Rakyat Kejujuran dan keterbukaannya mengingatkan kita pada Pocut Baren sebagai seorang wanita pejuang yang dapat menghormati musuhnya ia mengambil manfaat itu untuk menyelamatkan rakyatnya. Selain pemberani, ulet dan suka berterus terang, Pocut Baren juga seorang wanita yang sangat cerdas. Kecerdasannya ia buktikan dalam pelaksanaan pekerjaannya sebagai seorang uleebalang. Perjuangan secara fisik dalam menentang Belanda telah diakhirinya. Walaupun demikian, ia tetap berjuang untuk kesejahteraan rakyatnya dengan cara membangun kembaii negerinya menjadi sebuah negeri yang makmur. Untuk itu ia mengajak seluruh rakyatnya agar mau bekerja keras. Selama masa perjuangan melawan Belanda, perekonomian masyarakat mengalami kemunduran. Hal ini terjadi karena sawah ladang para petani dibiarkan terbengkalai menjadi lahan tidur. Sebagian besar penduduk terlibat dalam perang melawan Belanda, sehingga waktu untuk bekerja di sawah dan berternak maupun menangkap ikan menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan munculnya banyak kemiskinan dan bencana kekurangan pangan. Untuk memperbaiki kehancuran ekonomi rakyat di daerah Tungkop tersebut, Pocut Baren berjuang keras agar masalah ekonomi rakyat yang hancur tersebut dapat segera diatasi. Sebagai seorang uleebalang, Pocut Baren ternyata juga cakap dalam bidang pertanian dan pemerintahan desa. Dengan ketrampilannya di ladang pertanian dan pemerintahan tersebut, ia memimpin rakyatnya agar secara bersama-sama membangun desanya. Sawah-ladang para petani yang semula ditinggalkan diusahakan kembali agar tidak ada satupun di antaranya yang terbengkalai. Kebun-kebun penduduk harus ditanami dengan pepohonan yang dapat memberikan hasil pada pemiliknya. Untuk itu muncul gerakan penghijauan dengan menanam tanaman pangan, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman keras lainnya. Dengan mendapatkan pembinaan dari seorang uleebalang wanita, masyarakat menanami kebunnya dengan tanaman kelapa, pala, kakau, cengkih, nilam, mangga, pisang, jagung dan lain-lain tanaman yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.

Dalam bidang pengairan untuk mengairi sawah-sawah milik para petani, Pocut Baren menggerakkan rakyatnya untuk membangun saluran irigasi yang airnya dialirkan dari sungai-sungai besar ke sawah-sawah penduduk, sehingga pada musim kemarau sawah-ladang milik petani tidak akan kekeringan. Untuk menghindarkan perselishan di antara para petani, maka perlu diadakan pembagian air secara bergilir.

Untuk menghindarkan serangan hama dan penyakit tanaman, Pocut Baren menyarankan agar para Petam menanam padi secara serempak, sehingga siklus kehidupan hama dapat diputus. Agar hasil panen lebih memuaskan, maka perlu adanya perbaikan cara bercocok tanam yang benar. Pocut Baren juga memperkenalkan sistem Panca Usaha Tani kepada masyarakat. Panca usaha tani tersebut yaitu :

(1) Melakukan pengolahann tanah secara baik dan benar, dengaam memanfaatkan tenaga kerbau dan sapi untuk membajak sawah.

(2) Cara menyemaikan bibit padi yang benar, dengan memilih padi lokal jenis unggul;

(3) Melakukan pemberantasan hama secara bersama-sama, dengan memanfaatkan predator. Yang dimaksud predator di sini yaitu hewan yang memangsa hewan lain yang menjadi hama tanaman;

(4) Memberikan pupuk dengan dosis yang tepat pada tanaman padi. Adapun pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dan kompos atau pupuk organik; dan

(5) Mengairi sawah sesuai dengan kebutuhan tanaman padi. Setelah masa panen para petani juga disarankan agar memanen padinya dengan baik dan benar. Untuk menyimpan hasil panen, perlu dibuatkan tempat penyimpanan padi (lumbung).

Jika ada anggota masyarakat yang malas bekerja, ia tidak segan-segan untuk menegurya. Untuk itu ia bekerja keras untuk mengabdi pada rakyatnya. Buah usahanya yang keras, ulet dan tak mengenal lelah itu, pada akhirnya akan membuahkan hasil yang menggembirakan. Beberapa tahun setelah Pocut Baren membina desanya, hasilnya mulai kelihatan. Secara berangsur-angsur kehidupan rakyatnya yang tadinya sangat menderita, mulai membaik. Perekonomian rakyat mulai bergairah kembali. Berkat kepemimpinannya sebagai seorang uleebalang wanita, Tungkop menjadi daerah yang aman, tentram dan makmur. Ketika musim panen tiba, daerah Tungkop mengalami surplus produksi pertanian sehingga hasilnya dapat dikirim ke daerah lain yang membutuhkan. Perubahan yang menyolok dari daerah miskin yang rawan pemberontakan menjadi daerah yang aman dan makmur membuat Pemerintah Belanda yang membawahi daerah tersebut menjadi gembira. Hal ini ditunjukkan dengan adanya laporan Letnan H. Scheurleer, Komandan Bivak Tanoh Mirah yang juga merangkap penguasa sipil. la melaporkan kepada atasannya di Kutaraja bahwa Pocut Baren telah berusaha dengan sungguh-sungguh menciptakan ketertiban, keamanan dan kemakmuran. (Zentgraaf, 1982/1983 : 139). Sebagai tanda terima kasihnya, Veltman sekali lagi memperlihatkan kebaikan hatinya kepada Pocut Baren. Ia menghadiahkan sebuah kaki palsu yang di buat dari kayu untuk wanita itu. Kaki palsu tersebut didatangkan langsung dari negeri Belanda. Setelah memakai kaki palsu pemberian dari Veltman, Pocut Baren mendapat julukan sebagai “De Vrouwelijke Oeleebalang methet houten been” (Doup, 1940 : 204; Zentgraaff; 1982/1983 : 138-139). Keberhasilannya dalam membangun perekonomian rakyat dan memantapkan keamanan dan ketertiban di daerahnya menunjukkan bahwa Pocut Baren bukan hanya seorang pejuang dan pemimpin rakyat, tetapi juga seorang yang ahli dalam bidang agronomi.

Facebook Comments


Safrizal

Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin, dan tuangkan semuanya ke atas kertas. Jangan melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan