Pin It
Search
Monday 18 June 2018
  • :
  • :

Pocut Baren : Jilid II

Pocut Baren adalah seorang bangsawan. Ayahnya bernama Teuku Cut Amat,  seorang uleebalang di Tungkop, Aceh Barat. Masa kecilnya, ia lalui sebagaimana penduduk Aceh lainnya yaitu belajar ilmu agama. Pocut kecil mengaji kepada para ulama, baik yang didatangkan kerumahnya maupun mengaji di meunasah, dayah  dan masjid.

Riwayat Masa Kecilnya

Pocut Baren seorang wanita bangsawan yang lahir di Tungkop. la adalah putri Teuku Cut Amat, seorang Uleebalang Tungkop yang sangat berpengaruh, terpandang berwatak keras dan pantang menyerah. Daerah keulebalangan Tungkop merupakan bagian dari daerah federasi Kaway XII yang letaknya berada di Pantai Barat Aceh, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Aceh barat. Sebagaimana lazimnya setiap anak perempuan Aceh, Pocut Baren dididik dengan pelajaran agama Islam. Pendidikan agama ini di bawah asuhan ulama-ulama yang didatangkan ke tempatnya seperti yang banyak dilakukan oleh keluarga uleebalang lainnya. Dan hasil pendidikan agama yang diperolehnya selama bertahun-tahun di meunasah, rangkang dan dayah itulah tertanam dalam jiwanya satu kepribadian tertentu yang berakar dalam dan teguh. Sesuai dengan ajaran yang diyakininya, Pocut Baren sanggup berkorban apa saja, baik harta benda, kedudukan maupun nyawanya, demi tegaknya kepentingan agama dan bangsa keyakinan serupa itu ia buktikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. la dengan rela meninggalkan kesenangan dan kemewahan.

Selain pendidikan agama yang kental, situasi politik dan peperangan yang berkepanjangan di Aceh Barat telah membentuk sikap dan watak Pocut Baren semakin dewasa. Pada saat wanita itu menginjak , usia dewasa, sebagian Aceh Barat telah dikuasai oleh Belanda. Maka tidak mengherankan jika ia tumbuh menjadi seorang wanita yang taat beribadah dan patuh menjalankan syariah Islam, serta menjadi pejuang yang tangguh melawan Belanda.

Setelah dewasa, Pocut Baren dinikahkan dengan seorang Keujruen yang menjadi Uleebalang Gume. Suaminya itu juga seorang pejuang yang memimpin perlawanan di Kawasan Woyla. (Zentgraaff, 1982/1983 : 237; Doup, 1940 : 204). Daerah yang menjadi federasi Kaway XII ini, di samping daerah Tungkop, juga darah-daerah lain, seperti daerah Pameue, Geumpang, Tangse, Anoe dan Gume. Adapun wilayah Tungkop terletak di kawasan Hulu Sungai Woyla. (Zentgraaff; 1982/1983 : 137). Oleh Pemerintah Belanda, pada tahun 1922 Keuleebalangan Tungkop dimasukkan ke dalam Onderafdelling Meulaboh, bersama-sama daerah lainnya, seperti Bubon, Lhokbubon, Kaway XVI (Meulaboh), Seuneuam, Betong dan Pameue. Daerah-daerah ini menjadi daerah swapraja yang dalam istilah Belandanya disebut Zelfbesturen. Daerah ini oleh pemerintah Belanda diakui sebagai daerah zelfbesturen menurut peraturan organisasi pemerintah sebagaimana diatur dalam Stablad 1922 Nomor 451. (Hassan, 1980: 194). Walaupun kedudukannya masih berada di bawah payung Kerajaan Aceh Darussalam, Federasi Kaway XII ini telah mempunyai hak mengatur dirinya sendiri (hak otonom). Kaway XII dan daerah sepanjang Krueng Woyla merupakan daerah yang banyak menghasilkan emas. Dengan kekayaan emasnya yang melimpah tersebut, telah mendorong orang-orang dari Minangkabau berdatangan untuk menambang daerah penghasil emas tersebut. Orang-orang Minangkabau yang bermukim di daerah Kaway XII dan sepanjang Krueng Woyla, setelah bercampur baur dengan masyarakat Aceh, keturunannya dikenal dengan nama masyarakat Aneuk Jamee. Kaway XII merupakan daerah tambang emas di dalam wilayah Kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang Keujruen yang disebut Keujreun Meuih. Keujreun Meuih mempunyai tugas mengambil hasil emas dan pajak-pajak lainnya dari pertambangan emas di dalam wilayah federasi tersebut. (Djajadiningrat, 1934 : 693). Dengan hasil penambangan emas yang melimpah tersebut, Aceh Barat mampu membiayai perangnya melawan Belanda hingga bertahun-tahun lamanya. Tidak terkecuali di daerah Tungkop dan sekitarnya, juga ikut memanfaatkan penambangan emas ini untuk biaya perang melawan Belanda. Sebagaimana pada umumnya gadis-gadis Aceh lainnya, Pocut Baren dilahirkan dan dibesarkan dalam suasana perang. Suasana peperangan ini telah membentuk jiwa dan pribadinya sebagai seorang manusia yang harus mampu menghadapi berbagai tantangan yang menghadangnya. Sejak kecil ia telah dilatih dengan berbagai ujian berat yang mampu membentak dirinya sebagai seorang yang kuat, tangguh, ulet, berani dan semangat yang membaja untuk memusuhi Belanda yang dianggapnya kaphe. Dengan didikan seperti itu, setelah dewasa ia mampu mendarmabaktikan dirinya untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Sebagai seorang bangsawan, ia rela meninggalkan kehidupan duniawi yang bergelimang kemewahan. Dengan menggabungkan dri ke dalam barisan pejuang yang hidup di rimba raya untuk ikut bergerilya memimpin perang melawan Belanda.

Berjuang Melawan Belanda Pocut Baren merupakan seorang wanita yang tahan menderita, sanggup hidup dalam waktu lama dalam pengembaraannya di gunung-gunung dan hutan belantara. Pengalaman dan penderitaan hidup seperti itu mulai ia jalani semasa berjuang bersama-sama dengan Cut Nyak Dhien. Wataknya yang pemberani, tabah dan ulet menjadi modal yang berharga dalam perjuangan. la sangat dihormati dan disegani oleh teman-teman seperjuangannya dan ditaati oleh pengikut pengikutnya serta ditakuti oleh musuh-musuhnya. Hal ini diakui sendiri oleh Doup, salah seorang mantan Komandan marsose di Aceh yang ditulisnya dalam buku yang berjudul Gedenk book van het Korps Marechaussee. Berkat kepemimpinannya dalam peperangan dengan taktik perang gerilya, Belanda dipaksa menelan kerugian besar. Pocut Baren telah berjuang dalam waktu yang cukup lama. Sejak masa muda, ia telah terjun ke kancah pertempuran. Pocut Baren meunjukkan kesetiaannya yang tinggi pada Cut Nyak Dhien, baik dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda maupun dalam pengembaraan bersama dari satu tempat ke tempat lain, dari satu hutan ke hutan lain dengan menahan lapar dan penderitaan. Pengalaman bertempur yang diperoleh dari perjuangan bersama Cut Nyak Dhien itu, semakin memperteguh pendiriannya dalam perlawanan terhadap Belanda, terutama ketika ia memimpin sendiri pasukannya. Begitu suaminya gugur dalam pertempuran, ia bertekad untuk melanjutkan perjuangan suaminya membebaskan Aceh dari cengkraman Belanda. Perjuangan dan perlawanan Pocut Baren yang gagah berani dilukiskan sendiri oleh penulis Belanda yang bernama Doup (1940: 204) yang mengatakan bahwa Pocut Baren telah melakukan perlawanan terhadap Belanda sejak tahun 1903 hingga tahun 1910. Pada hal Cut Nyak Dhien tertangkap pada tanggal 4 Nopember 1905.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pocut Baren telah memimpin sendiri pasukannya ketika Cut Nyak Dhien masih aktif dalam pertempuran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, ketika itu di wilayah Aceh barat terdapat dua orang wanita yang memimpin pasukan melawan Belanda, yaitu Cut Nyak Dhien dan Pocut Baren. Keduannya sama-sama dilahirkan sebagai Putri bangsawan dan Samasama sebagai anak Uleebalang. Keduanya juga mempunyai kesamaan tekad dan cita-cita mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Aceh. Pada saat suaminya masih hidup ia bersama suaminya memimpin perlawanan mengusir penjajahan Belanda. Sebenarnya ia tahu dan sadar bahwa setiap saat diri dan suaminya dapat terancam maut oleh peluru musuh. Tetapi ia tetap berjuang demi tanah air yang tidak rela diinjak-injak oleh kaphee Belanda. Bagi dirinya, kematian bukanlah hal yang menakutkan, sehingga ia tetap bcrsemangat dalam menghadapi peperangan yang sering kali tidak seimbang dalam jumlah maupun kekuatan tempurnya. Belanda dilengkapi persenjataan yang lebih baik dan lebih modern, sedangkan dipihak pejuang Aceh yang dipimpinnya lebih kecil personilnya dan persenjataannyapun kalah bagus, tetapi dengan semangat juangnya yang membaja, membuat Belanda sering kedodoran.

Berkat semangat perang sabil yang tertanam dalam jiwanya, Pocut Baren bersama suaminya sadar bahwa sewaktu-waktu akan tewas ditembus peluru musuh. la rela mati sahid demi kedaulatan tanah rencong. la juga tahu bahwa suaminya akan mendahului dirinya atau sebaliknya. Situasi serupa ini pernah dialami oleh banyak wanita pejuang Aceh, seperti telah disebutkan di atas. la rela ditinggal mati suaminya dan sudah siap pula untuk melanjutkan perjuangan sebagai warisan yang harus diterima dan mereka yang telah mendahului sahid.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih bagi Pocut Baren ketika bersama suaminya ia bertempur antara hidup dan mati, melawan Belanda. Pertempuran tersebut terjadi di wilayah Keujren Game, Aceh Barat. Mengingat kekuatan personil militer Belanda lebih besar dan persenjataannyapun juga tidak seimbang serta posisi pasukan Aceh kurang menguntungkan, maka gugurlah suami Pocut Baren dalam pertempuran tersebut. Pocut Baren berhasil meloloskan diri dari kepungan Belanda. Walaupun sedih atas kematian suaminya, ia tetap tidak akan menyerah. Bahkan ia bertekad akan meneruskan perjuangan suaminya. Dengan sahidnya suaminya, semua tugas memimpin pasukan jatuh ke pundaknya.

Walaupun sendirian memimpin pasukan, Pocut Baren tidak kehilangan semangat seperti yang diperkirakan Belanda. la menghimpun kembali pasukannya dengan cara memobilisasi penduduk di daerah Kaway XII dan mengumpulkan sisa sisa pasukannya untuk meneruskan perjuangan yang lebih intensif. Sebaliknya, Belanda yang dibuat pusing tujuh keliling, terpaksa harus mendatangkan bala bantuan lagi dari Batavia untuk mengejar pejuang-pejuang Aceh yang dipimpin Pocut Baren itu. Setelah situasi dapat dikuasai kembali, konsulidasi pasukan dapat berjalan dengan baik, Pocut Baren kembali mengatur strategi dalam upaya melakukan penyerangan terhadap Belanda.

Di samping melskukan mobilisasi umum, Pocut Baren juga membangun benteng di Gunung Macan yang akan dijadikan sebagai pusat pertahanannya. Dari benteng inilah direncanakan segala penyerangan terhadap tangsi militer Belanda dan penyergapan terhadap patroli-patroli musuh yang sedang lewat. Untuk mengimbangi kehebatan benteng Pocut Baren di Gunung Macan, pasukan Belanda kemudian membangun tangsi secara besar-besaran di Kuala Bhee dan Tanoh Mirah. Dan kedua tempat pertahanan inilah pasukan Belanda bergerak untuk memburu pasukan pocut Baren. (Zentgraaff, 1982/1983 : 138). Dari pusat pertahanannya di gunung Macan tersebut, pasukan Pocut Baren lebih sering melakukan penyergapan terhadap tangsitangsi Belanda, baik yang berada di Tanoh Mirah maupun di Kuala Bhee. Seusai melakukan penyerangan, mereka kembali ke pusat pertahanannya di Gunung Macan. Pasukan Belanda tampaknya tidak berani langsung menyerang Pocut Baren di Gunung Macan, karena pertahanannya sangat kuat dan posisinya sangat strategis, sehingga mampu dipertahankan sampai bertahun-tahun lamanya. Hal itu dikisahkan sendiri oleh Zentgraaff yang menuliskan dalam bukunya sebagai berikut : “…..begitulah selama bertahun-tahun ia hidup dalam pertempuran yang diselingi jeda sejenak ke tempat-tempat yang jauh terpencil yang belum lagi didatangi Kompeni, masih merupakan masa yang menyenangkan baginya.

Cara bertempur seperti ini, di mana anda berhenti dulu kalau merasa bosan bertempur. Masa-masa yang menyenangkan akan segera berakhir setelah marsose mulai mengadakan pembersihan di daerah pesisir Barat tersebut. Penghidupan berubah menjadi suatu yang menyulitkan dengan segala perburuan dan penyergapan yang dilakukan. Namun, ia menerima segala resiko itu dan ia senantiasa melawan dengan layaknya. la selalu bergerak sangat obil dan berkuasa setaraf dengan lelaki yang paling kuat” (Zantgraaft 1982/1983 : 137).

Bagaimanapun cepatnya penyerangannya, betapapun kuatnya pertahanannya, Pocut Baren tidak dapat membuat pasukan. Pasukan Belanda menyerah kalah dan menghentikan usaha perburuan mereka terhadap dirinya. Kelemahan di bidang persenjataan jika dibandingkan dengan persenjataan serdadu Belanda, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pasukan Pocut Baren berangsur- berangsur melemah karena banyak pasukannya yang gugur dalam pertempuran.

Facebook Comments


Safrizal

Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin, dan tuangkan semuanya ke atas kertas. Jangan melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan