Pin It
Search
Monday 22 October 2018
  • :
  • :

Pocut Baren : Jilid I

Jika kita menapaki masa lalu Aceh, kita akan segera mengetahui sejumlah wanita yang mempunyai karya besar yang tidak kalah dengan para prianya. Banyak wanita yang turut serta memberikan andil besar, terutama dalam pertumbuhan dan pengembangan Kerajaan Aceh serta perjuangan dalam melawan imperialisme dan kolonialisme bangsa asing yang ingin menancapkan kuku penjajahannya di tanah rencong ini.

Dialah pejuang perempuan dari Aceh Barat yang menggemparkan petinggi militer Belanda. Tercatat 19 petinggi militer dikerahkan secara bergantian untuk menangkap dirinya. Ketangguhan dan keberaniannya membuat Belanda mengerahkan segenap daya dan upaya. Bahkan Belanda membuat tangsi secara besar-besaran untuk mengepung dirinya. Pocut Baren telah menorehkan namanya dengan tinta emas sebagai pejuang perempuan Aceh yang tangguh. Ia mengobarkan perang dari tahun 1903 hingga 1910. Meski seorang perempuan, tetapi tidak menghalanginya untuk memimpin pasukan menyerbu marsose Belanda.

Pocut Baren adalah seorang bangsawan. Ayahnya bernama Teuku Cut Amat, seorang uleebalang di Tungkop, Aceh Barat. Masa kecilnya, ia lalui sebagaimana penduduk Aceh lainnya yaitu belajar ilmu agama. Pocut kecil mengaji kepada para ulama, baik yang didatangkan kerumahnya maupun mengaji di meunasah, dayah dan masjid.

Jika di daerah lain, peranan wanitanya belum begitu menonjol, maka Aceh justru muncul banyak tokoh-tokoh wanita yang menjadi pemimpin, baik pemimpin militer maupun kepala pemerintahan. Hal ini membuktikan bahwa dalam gerakan emansipasi wanita, Aceh selangkah lebih maju dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia Hal ini terbukti dengan adanya wamita yang menjadi Sultanah, (wanita kepala pemerintahan Kerajaan Aceh), Uleebalang (kepala kenegerian), Laksamana (pemimpin angkatan perang), pemimpin gerilya melawan Belanda, penyair dan sastrawan wanita.

Peran wanita dalam bidang pemerintahan dapat dibuktikan dengan munculnya beberapa Sultanah yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam, di antaranya yaitu pertama, Sultanah Tajul Alan Safiatuddin Syah yang naik tahta pada tahun 1641-1675. Sebagai putri Sultan Iskandar Muda, ia berhak menggantikan kedudukan suaminya yang bernama Sultan Iskandar Thani, yang meninggal tahun 1641. Sultanah kedua adalah Nurul Alam Naqiatuddin Syah, yang memerintah tahun 1675-1678. la naik tahta menggantikan kedudukan Sultanah yang pertama. Setelah Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah meninggal, kedudukannya digantikan oleh Sultanah Inayat Syah Zakiatuddin Syah (1678-1688) sebagai Sultanah yang ketiga. Dari ketiga Sultanah tersebut, ketiga-tiganya pernah mengeluarkan mata uang deureuham, mata uang emas yang dipergunakan sebagai alat pembayaran yang syah dalam jual-beli antar bangsa. (Hasan, 1980 : 164-169; Alfian, 1986 : 43-45). Para wanita yang pernah menduduki jabatan Uleebalang di antaranya yaitu Cut Nyak Asyiah yang mengepalai kenegerian Chik Keureutoe di Aceh Utara, Pocut Baren di Tungkop, yang berada dalam wilayah Federasi Kaway XII Aceh Barat. Dalam perjuangan melawan Belanda baik yang sudah terkenal maupun yang belum tercatat dalam lembaran sejarah, para wanita banyak yang terlibat. Peranan wanita pejuang ini dilukiskan oleh penulis Belanda H.C. Zentgraaff yang menyebutkan bahwa wanita-wanita Aceh, bersama-sama dengan suaminya ikut berjuang melawan Belanda. Mereka dapat saling bahu-membahu dalam memimpin perjuangan melawan khaphe Belanda. Bahkan ada di antara mereka yang menggantikan posisi suaminya memanggul senjata memimpin perlawanan pada saat suaminya terbunuh oleh serdadu Belanda. Para wanita pejuang tersebut di antaranya adalah istri Teungku Chik Paya Bakong, Istri Teungku di Mata le, istri Teungku di Barat.

Ada juga wanita yang tampil sendiri sebagai pemimpin dalam mempertahankan kedaulatan Aceh dari serangan imperialisme dan Kolonialisme Belanda, di antaranya yaitu Cut Nyak Meutia, Cut Nyak Dhien, Pocut Baren dan Pocut Meurah lntan. Cut Nyak Dhien misalnya, ia pada awalnya berjuang bersamasama suaminya Teuku Ibrahim Lamnga yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda pada tahun 1878. Kemudian dilanjutkan dengan suaminya yang kedua yang bernama Teuku Umar, yang juga gugur dalam pertempuran di Aceh Barat tanggal 11 Februari 1899. Setelah suaminya Teuku Umar sahid, Cut Nyak Dhien mengambil alih posisi suaminya untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Walaupun kondisi

fisiknya sudah sakit-sakitan dan matanya rabun, namun semangat juangnya tetap membaja. Ia masih mampu mengkoordinir pengikutnya untuk menyerang Belanda. Perjuangannya baru berakhir setelah ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Sumedang Jawa Barat sampai pada saatnya meninggal. Ia dimakamkan di tempat pengasingannya di Sumedang. Tokoh wanita lainnya yang heroik dalam Pejuangannya melawan Belanda yaitu cut Nyak Meutia. Demi mempertahankan tanah kelahirannya, ia rela bertempur sampai titik darah penghabisan dan gugur dalam pertempuran di Krueng Peutoe. Nasib serupa dialami juga oleh seorang pejuang wanita yang gagah berani, yaitu Pocut di Biheue. la terkena tembakan peluru tentara Belanda, namun dapat bertahan hidup dan berhasil sembuh dari lukanya. Walaupun sudah berhasil menangkapnya, Belanda tetap menganggapnya sebagai soorang pemimpin wanita yang membahayakan kedudukan Belanda di Aceh. Untuk mengantisipasinya, Belanda kemudian mengasingkan perempuan tersebut ke Blora, Jawa Tengah sampai saatnya ia meninggal dan dimakamkan di sana. Sesuai dengan judul dari tulisan ini, penulis akan mengemukakan Seorang tokoh pejuang yang sepak terjangnya pantas diteladani oleh generasi sekarang, yaitu Pocut Baren. Wanita ini pada masa Perang Aceh sangat terkenal keberaniannya melawan Kolonilalisme Belanda. la adalah sosok wanita pejuang yang heroik. Di samping itu ia juga dikenal sebagai seorang uleebalang wanita yang mampu membangun daerahnya di Tongkop, Aceh Barat yang porak poranda sebagai akibat terjadinya perang yang berkepanjangan. Pasca perjuangan melawan Belanda, ia bekerja keras untuk mensejahterakan rakyatnya. Melalui perbaikan agronomi, kehidupan masyarakat menjadi lebih makmur dan sejahtera. Untuk lebih mengetahui kehidupan Pocut Baren, di bawah ini akan dipaparkan serba sedikit mengenai riwayat hidup dan perjuangannya melawan Belanda. Di samping itu juga akan dibahas mengenai kepemimpinannya sebagai seorang uleebalang wanita yang mampu menghidupkan kembali perekonomian rakyatnya. Sebagai seorang pemimpin yang handal, ia juga seorang sastrawan yang produktif menuliskan syair-syairnya dalam bahasa Aceh.

Facebook Comments


Safrizal

Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin, dan tuangkan semuanya ke atas kertas. Jangan melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan