Pin It
Search
Sunday 20 August 2017
  • :
  • :

Monumen Kereta Api

Monumen Lokomotif Kereta Api aceh berada dipusat kota Aceh tepatnya berada di persimpangan jalan Muhammad Jam, di seberang masjid Raya Baiturrahman. Untuk menuju ke lokasi monumen ini, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi ataupun dengan menggunakan angkutan kota. Biasa masyarakat menyebut angkutan kota ini dengan sebutan labi-labi. Jika pengunjung akan menggunakan kendaraan pribadi, maka pengunjung dapat memulai dari jalan Pangeran Diponegoro.

Monumen kereta api ini dibangun sebagai bukti sejarah dan saksi bisu masa lalu aceh yang pernah berjaya dengan transportasi menggunakan kereta api. Kereta api ini pulah lah yang banyak memberi jasa bagi kemajuan ekonomi masyarakat Aceh pada jaman dulu.

Tahun 1970 kereta api ini di buat oleh Belanda dengan maksud untuk memperlancar pendistribusian logistik untuk perang serta mengangkut para serdadu Belanda itu sendiri, sampai akhirnya kereta api ini pun digunakan untuk mengangkut masyarakat sipil di Banda Aceh.

Panjang rel saat itu sekitar 5 kilometer dengan kecepatan kereta hanya sekitar 25 kilometer/jam yang digunakan oleh masyarakat sipil untuk bepergian dari pelabuhan ulee lheue sampai ke kota Banda Aceh, begitu juga sebaliknya. Dahulunya kereta api ini memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu perekonomian masyarakat sekitar. Kereta api ini sempat digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan dari satu daerah ke daerah lain.

Lintasan rel kereta api ini di perpanjang mulai dari stasiun Banda Aceh yang terletak di dekat masjid baiturrahman sampai menuju ke simpang Surabaya. Pada tanggal 29 desember 1919, lintasan kereta api ini juga dibuat menuju ke Aceh timur sampai masuk ke kota Medan. Sampai pada tahun 1982 akhirnya penggunaan kereta api ini dihentikan oleh pemerintah Banda Aceh, dengan alasan perawatan kereta yang membutuhkan onderdil baru sudah sulit dicari serta dengan sudah baiknya sarana transportasi jalan raya, sehingga kereta tidak mampu lagi untuk bersaing.

Saat menjelang dihentikan pengoperasiannya, kereta ini hanya rutin melakukan perjalanan ke medan, sampai akhirnya pengoperasiannya sudah benar benar dihentikan. Pada tahun 1999, pemerintah sempat berencana akan membangun lagi lintasan kereta api ini. Sampai pada tahun 2000 rencana ini sempat berjalan, namun akhirnya kembali terhenti karena pembangunan yang bermasalah.

Sampai pada saat terjadi pergantian pemerintahan di Aceh, yang saat itu Gubernur Aceh digantikan oleh Zaini Abdullah, mengusulkan dana pembangunan rel ini untuk dialihkan tujuannya sebagai modal pembangunan irigasi.

Sampai akhirnya lokomotif kereta uap yang bernomor seri BB 84 ini di abadikan oleh pemerintah setempat dengan membuat sebuah monumen kereta api di atas tanah yang dahulunya merupakan stasiun Banda Aceh yang sampai saat ini monumen tersebut masih dapat dilihat di seberang jalan masjid raya baiturrahman.

Saat terjadinya bencana tsunami tahun 2004 silam, bangunan monumen ini sempat terkena imbasnya. Air laut sempat mengantam bangunan, namun karena bangunan ini dibuat dengan pondasi yang kuat, menjadikan monumen ini tidak mudah roboh dan sampai sekarang masih tetap bertahan.

Lokasi monumen kereta api ini sekarang selalu ramai dikunjungi. Baik oleh masyarakat Aceh sendiri maupun wisatawan dari luar daerah Aceh. Pemerintah setempat terus melakukan perawatan berkala terhadap monumen ini, dengan tetap mempertahankan bentuk asli dari lokomotif kereta api ini, sehingga monumen ini selalu terlihat cantik dan tetap kaya akan nilai sejarahnya.

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna