Pin It
Search
Thursday 6 August 2020
  • :
  • :

Mengenal Tenun Aceh

Pada masa kolonial, penggambaran bentuk manusia pada seni ukir dan dan tenun memang pernah ada tapi berkembang terbatas untuk kalangan terbatas pula. Meskipun begitu, penggambaran visual ornament aceh dalam bentuk manusia dan binatang dibuat tidak sempurna atau kurang proporsional, hal ini dilakukan sebagai upaya memperkecil kemungkinan makhluk yang dilukis itu dapat hidup apabila diberi nyawa dengan kondisi yang tidak sempurna.

Pasca perang saudara aceh yang disebut dengan perang cumbok antara Ulee Balang dan Ulama antara tahun 1930-an praktik menggambarkan manusia dan binatang pada aspek seni visual aceh mulai menghilang dan pada akhir tahun 1950-an pantangan itu semakin dikukuhkan oleh PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). Dalam pandangan ulama dan kelompok sunnah di aceh, penggambaran manusia dan binatang dalam media apapun tidak memiliki manfaat bahkan mendatangkan mudharat. Oleh karena itu ulama menganjurkan masyarakat mengadaptasi huruf-huruf hijaiyah, teknik gaya khat, floral, benda, gerak alam atau geometri sebagai elemen untuk memperindah rumah, pakaian atau senjata yang digunakan orang aceh.

Begitu juga dengan tenun aceh yang merupakan fashion tradisional dan memiliki sifat yang elegan dan bermakna. Tenun aceh memiliki beberapa motif yang beragam, antara lain motif Bungong kalimah, Bungong si awan, Bungong ayu-ayu, Bungong Pucuk Rebung, Bungong Johang, Bungong Taboe, Bungong Sagoe, Bungong Glima, Bungong Puta Taloe Lhee, Bungong Puta Taloe Dua, Bungong Awan Sitangke, dll.

Motif bungong kalimah (kaligrafi) pada kain panjang yang berfungsi sebagai selendang/penutup kepala wanita Aceh berisi kalimah Allah yang ditempatkan di bagian ujung kain dan ketika dipakai bagian ujung kain yang ada motif bungong kalimah diletakkan di atas kepala. Penempatan motif bungong kalimah di bagian kepala berkaitan erat dengan konsep yang berkembang dalam masyarakat Aceh bahwa kalimah Allah harus ditempatkan di posisi yang tinggi.

Selain motif bungong kalimah, motif yang sering digunakan dalam seni menenun adalah motif bunga delima. Pemilihan motif bunga delima sebagai motif hias dilandasi kepada konsep buah yang disebutkan dalam Al-Qu’ran bahwa buah delima adalah salah satu jenis buah yang terdapat di dalam surga. Selain bunga delima, pada tenun yang beredar dalam masyarakat Gayo/Alas terdapat motif tampuk manggis/mongeute. Pemilihan buah manggis sebagai motif hias kain tenun masyarakat Gayo/ Alas menggambarkan kondisi lingkungan setempat yang subur. Buah manggis yang dikenal sebagai ratu buah juga mengandung anti oksidan yang tinggi dan buah manggis merupakan jenis buah yang sulit dibudi dayakan, sehingga mungkin ini yang menjadi salah satu alasan pemilihan tampuk manggis sebagai motif hias sebagai apresiasi masyarakat Gayo/Alas terhadap buah manggis. Dan hasil penelitian ilmiah diketahui bahwa buah delimah dan buah manggis memiliki manfaat serta anti oksidan tinggi.

Pohon hayat yang menjadi ciri khas tenun Siem serta yang terdapat pada kain tenun ija dua blah hah melambangkan kehidupan dan harapan. Dalam masyarakat Aceh tempo dulu, selembar kain yang disandang oleh pemakainya mengandung harapan akan kehidupan dan rezeki yang lebih baik.

Motif lain yang muncul dalam kain tenun yang menjadi koleksi museum Aceh adalah motif daun sirih. Batang sirih yang bersifat merambat melambangkan kehidupan yang terus meningkat. Selain itu, dalam kehidupan masyarakat Nusantara, daun sirih digunakan sebagai pelengkap upacara ketika menerima tamu.

Khusus dalam masyarakat Gayo/Alas, muncul motif hias tuleng iken/tulang ikan dan peger/pagar. Penggambaran motif tulang ikan pada kain tenun Gayo/Alas merupakan penggambaran dari ikan depik yang menjadi ikan khas di Gayo/Alas. Peger/ pagar melambangkan perlindungan, selembar kain akan melindungi pemakainya dari rasa malu karena kain akan menutup aurat pemakainya.

Kain tenun Aceh maupun Melayu identik dengan motif awan, baik awan tunggal mau pun awan berarak. Pemilihan motif awan selain menggambarkan cuaca di Sumatera yang cerah juga melambangkan kehidupan masyarakat yang dinamis.

Selain bunga, buah, dan pohon yang mengandung makna filosofis, sebagian motif hias dibuat hanya semata sebagai hiasan saja misal motif bungong campli/bunga cabai, bunga tabur, dan motif geometris yang dipakai untuk memenuhi bidang hias dan menambah nilai estetis dari kain tenun tersebut.

sumber: Museum Aceh

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna