Pin It
Search
Monday 17 December 2018
  • :
  • :

Mengenal Sosok Syiah Kuala

Syiah kuala merupakan nama panggilan untuk ulama bernama lengkap  Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili (Singkil, Aceh 1024 H/1615 M – Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M) dan biasa disingkat dengan Syekh Abdurrauf As-Singkili. Dilahirkan di surau, Aceh, pada 1024 H/1615 M, nenek moyang Sheikh Singkel berasal dari Persia yang datang ke Kesultanan Samudera Pasai pada akhir abad ke-13. Nama Singkel dinisbakah pada daerah kelahirannya itu. Pendidikan pertama beliau didapatkan di tempat kelahirannya, Singkil, terutama dari ayahnya yang juga seorang pemimpin pondok pesantren. Selain itu beliau juga menimba ilmu di Fansur, karena ketika itu negeri ini menjadi salah satu pusat Islam penting di nusantara serta merupakan titik hubung antara orang Melayu dan kaum Muslim dari Asia Barat dan Asia Selatan. Beberapa tahun kemudian, beliau berangkat ke Kutaradja, ibukota kesultanan Aceh dan belajar kepada Syams al-Din al-Samatrani, seorang ulama pengusung doktrin Wujudiyyah. Pada tahun 1642 M (1052H) beliau berangkat ke jazirah arab untuk menunaikan ibadah haji sekalian menimba ilmu keislaman di sejumlah kota sepanjang rute haji mulai dari Dhuha (Wilayah Teluk Persia), Yaman, Jeddah, Mekkah serta Madinah.

Di teluk persia tepatnya di Dhuha beliau berguru pada seorang ualam besar bernama Abd Al-Qadir al Mawrir, di Yaman beliau belajar di sebuah kota bernama Bayt al-Faqih yakni dengan keluarga Ja’man. Beberapa anggota keluarga ini terkenal sebagai ahli sufi dan ulama terkemuka, antara lain Ibrahim Muhammad Ja’man serta Faqih al-Thayyib Abi al-Qasim Ja’man. Sebagian ulama Ja’man adalah juga murid-murid dari Ahmad Al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani. Guru paling berpengaruh terhadap pemahaman keagamaan Singkel adalah Ibrahim Abdullah Ja’man, seorang muhaddits dan faqih. Di samping itu dia juga seorang pemberi fatwa yang produktif. Seperti diuraikan Dr Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, sebagian besar waktu beliau dihabiskan untuk mempelajari ilm al-zhahir (pengetahuan eksoteris) seperti fiqih, hadits dan subyek lain yang terkait. Sementara guru beliau yang lain, yakni Ishaq Muhammad Ja’man, terkenal sebagai muhaddits dan faqih di Bayt al-Faqih.

Ketika belajar di Zabid, beliau banyak menimba ilmu kepada Abd Al-Rahim al-Shiddiq Al-Khash, Amin Al-Shiddiq al-Mizjaji dan Abd Allag Muhammad Al-Adani. Sejumlah ulama Yaman semisal Abd Fatah Al-Khash, Sayyid al-Thahit Al-Maqassari, Qadhi Muhammad Abi Bakr Muthayr dan Ahmad Abu Al-Abbas al-Muthayr. Di kota Jeddah di Saudi Arabia belaiu belajar dengan muftinya Abd Al-Qadir Al-Bharkali. Selanjutnya di Makkah, beliau belajar dengan Badr Al-Din al-Luhuri dan Abd Allah Al-Luhuri. Guru belaiu terpenting di Makkah adalah Ali Abd Al-Qadir. Selain itu beliau juga menjalin hubungan dengan beberapa ulama terkemuka di Makkah. Antara lain Isa al-Maghribi, Abd Al-Aziz Al-Zamzani, Taj Al-din Ibn Ya’qub, Ala’ Al-Din Al-Babili, Zayn Al-Abidin Al-Thabari, Ali Jamal Al-Makki dan Abd Allah Sa’id Ba Qasyir al-Makki. Dari banyak ulama inilah yang akhirnya menjadi bagian dari jaringan beliau dalam upayanya menyebarkan pembaruan dan pengetahuan Islam di nusantara.

Perjalananan akhir studi keislaman Syeh Abdurrauf Al-Singkili adalah di Madinah sekaligus menyelesaikan pelajarannya. Di kota tersebut, dia belajar dengan dua orang ulama penting, Ahmad Al-Qusyasyi dan khalifahnya Ibrahim al-Kurani. Dari Al-Qusyasyi dia mempelajari ilmu-ilmu dalam (ilm al bathin) yakni tasawuf dan ilmu terkait lainnya. Oleh gurunya itu, beliau lantas ditunjuk sebagai khalifah Syathariyyah dan Qadiriyyah. Ini sekaligus menandai selesainya pelajaran dalam jalan mistis. Ibrahim Al-Kurani banyak menanamkan pelajaran secara intelektual kepada Singkel. Pelajaran yang tidak hanya menyangkut pemikiran melainkan pada tingkah laku pribadi dan ilmu pengetahuan tentang pemahaman intelektual Islam bukannya pengetahuan spiritual atau mistis. Kedua ulama tersebut menjadi sentral dalam pencarian pengetahuan religi spiritual beliau. Dari kedua ulama terkemuka ini beliau mewarisi ilmu spiritual dari Al-Qusyasyi sementara ilmu intelektualnya dari Al-Kurani. Setelah menghabiskan studi keIslamannya di Jazirah Arab Pengetahuan beliau bisa dibilang sangat lengkap apalagi dibimbing langsung oleh tokoh dan ulama terkemudia kaliber dunia. Mulai dari syariat, fiqih, hadist, disiplin ilmu ekosoteris hingga kalam dan tasawuf.

Selama 19 tahun dia belajar di tanah Arab. Merasa sudah cukup menggali ilmu dari banyak ulama beliau akhirnya memutuskan pulang kampung kembali ke Aceh sekitar tahun 1622 M (1083 H). Di Aceh, beliau mengajarkan serta mengembangkan ilmu yang diperoleh selama studinya dengan mendirikan dayah-dayah, dari situlah beliau mulai mengembangkan mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya di Arab. Murid yang berguru kepadanya makin bertambah banyak dan bukan hanya berasal dari sekitar wilayah Aceh saja tapi seantero nusantara. Tak sedikit di antara murid-muridnya tadi menjadi ulama terkenal seperti Syeikh Burhanuddin dari Ulakan (Pariaman, Sumbar), Abd Al-Muhnyi dari Jawa Barat serta Dawud Al-Jawi Al-Fansuri Ismail Agha Mushthafa Agha ‘Ali Al-Rumi asal Turki.

Karena pengetahuannya yang luas itu, maka Sultanah Shafiyyat Al-Din menunjuk beliau menjadi Qadhi Malik Al-‘Adil atau mufti yang bertanggungjawab terhadap administrasi masalah keagamaan di kesultanan Aceh. Dengan dukungan sultanah, beliau berhasil menghapus ajaran Salik Buta, tarekat yang sudah ada sebelumnya. Sepanjang hidupnya, Syehk Abdurrauf As-Singkili sudah mengggarap sekitar 21 karya tulis, terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadits, 3 kitab fiqih dan selebihnya kitab ilmu tasawuf. Bahkan tercatat kitab tafsirnya berjudul Turjuman al-Mustafid(Terjemah Pemberi Faedah) adalah kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan berbahasa Melayu. Dia juga menulis sebuah kitab fiqih berjudul Mi’rat at-Tullab fi Tahsil Ahkam asy-Syari’yyah li al Malik al-Wahhab (Cermin bagi Penuntut Ilmu Fiqih pada Memudahkan Mengenal Hukum Syara’ Allah) yang ditulis atas perintah Sultanah. Sementara di bidang tasawuf, karyanya yakni Umdat al-Muhtajin(Tiang Orang-Orang yang Memerlukan), Kifayat al-Muhtajin (Pencukup Para Pengemban Hajat), Daqaiq al-Huruf (Detail-Detail Huruf) serta Bayan Tajalli(Keterangan Tentang Tajali).

Namun, di antara sekian banyak karyanya, terdapat salah satu yang dianggap penting bagi kemajuan Islam di nusantara yaitu kitab tafsir berjudul Tarjuman al-Mustafid. Ditulis ketika beliau masih berada di Aceh, kitab ini telah beredar luas di kawasan Melayu-Indonesia bahkan hingga ke luar negeri. Diyakini oleh banyak kalangan, tafsir ini telah banyak memberikan petunjuk sejarah keilmuan Islam di Melayu. Di samping pula kitab tersebut berhasil memberikan sumbangan berharga bagi telaah tafsir al-quran dan memajukan pemahaman lebih baik terhadap ajaran-ajaran Islam.

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna