Pin It
Search
Saturday 18 November 2017
  • :
  • :

Mengarungi Laut Bangko di Bakongan

Wisata Laut Bangko memiliki keindahan dan daya tarik panorama alam danau yang khas dan masih alami di dukung dengan panorama alam pegunungan hutan hujan tropis yang masih asli. Wisata Danau laot Bangko ini menjadi satu keatuan wilayah pengembangan wisata dengan Rantau Sialang. Kondisi jalan menuju lokasi Danau Laut Bangko sudah baik dan dapat ditempuh melalui perjalanan darat dari Tapaktuan (ibukota Kab. Aceh Selatan) dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam atau sekitar 90 km. Dan menuju kawasan Danau Laut Bangko dilanjutkan dengan berperahu menyusuri sungai selama 8 jam.
Belum terdapat fasilitas pendukung wisata di lokasi ini, sehingga pengunjung yang datang biasanya pulang hari atau tidak bermalam. Untuk akomodasi wisata terdapat di kota Tapaktuan. Terdapat beberapa sungai yang bermuara ke Danau Laut Bangko dan sekaligus menjadi akses masuk menuju lokasi wisata ini. Danau Laut Bangko masih dalam tahap pembangunan untuk dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan berupa menikmati panorama danau dan hutan perawan, mengamati atraksi satwa dan berpetualang di alam bebas.

Laut Bangko dulunya merupakan sebuah danau mini yang berlokasi di tengah hutan Taman Nasional Gunung Leuser, bagian barat, yang berbatasan dengan Kecamatan Bakongan dan Kecamatan Kluet Timur, saat ini. Konon, Dikisahkan bahwa Kerajaan Laut Bangko ini pernah megah tempoe doeloe. Raja yang terakhir yang sempat memimpin kerajaan tersebut, menurut Bukhari, dkk (2008:12) bernama Malinda dengan permaisuri Rindi. Setelah rajanya meninggal, daerah ini tenggelam kala banjir besar melanda.

Penduduknya kemudian berusaha mencari daratan baru, sebagain ke Tanah Batak, sebagian ke Singkil, sebagian ada yang masih tetap pada lokasi semula dengan mencari dataran tinggi yang baru. Dari sini kemudian timbul pendapat terjadinya kemiripan bahasa antara bahasa Kluwat dengan bahasa Batak, bahasa Alas, bahasa Karo,dan bahasa Singkil.

Sumber sejarah lisan (folklor) lainnya menyebutkan bahwa saat berkecamuk perang dahsyat di Aceh, ada sebuah komunitas masyarakat kala itu yang terpecah-pecah akibat menyelamatkan diri. Ada yang lari ke wilayah Kerajaan Kecil Chik Kilat Fajar di selatan Aceh, ada yang melarikan diri ke pedalaman-pedalaman lainnya dalam wilayah yang sama. Yang berada di wilayah Chik Kilat Fajar kemudian membuka komunitas sendiri, yaitu di kaki gunung Kalambaloh. Sedangkan di wilayah lainnya, juga membuat komunitas sendiri pula sehingga masih terdapat kemiripan bahasa antara yang berada di wilayah selatan Aceh (Chik Kilat Fajar) dengan beberapa wilayah lainnya seperti Singkil, dan Tanoh Alas, termasuk Sumatera Utara.

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna