Pin It
Search
Friday 24 November 2017
  • :
  • :

Melanglang ke Sabang Era Belanda

Kawasan Sabang atau Pulau Weh yang berada di jalur pelayaran internasional telah berdenyut kencang pada masa perang Belanda hingga Jepang di Aceh, bahkan jauh sebelumnya banyak yang telah menamakan Sabang saat persinggahanya.

  1. Sekitar tahun 301 sebelum Masehi, seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus berlayar ke arah timur dan menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.
  2. Pada abad ke 12, Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, jauh mengarungi melalui rute Maldives, Pulau Kalkit (India), Sri Langka, Andaman, Nias, Weh, Penang, dan Canton (China). Sinbad berlabuh di pulau Weh dan menamainya Pulau Emas
  3.  Pedagang Arab yang berlayar sampai ke pulau Web menamakannya Shabag yang berarti Gunung meletus. Mungkin dari sinilah kata Sabang berasal, dari Shabag. Dari sumber lain dikatakan bahwa nama pulau Weh berasal dari bahasa Aceh yang berarti terpisah. Pulau ini pernah dipakai oleh Sultan Aceh untuk mengasingkan orang-orang buangan.

Penamaan nama Pulau Weh, kata “Weh” merupakan bahasa Aceh yang bearti “Pindah”. Konon Pulau Weh atau Sabang bersatu pada Pulau Sumatera atau tepatnya pada Pantai Ule Lheu, karena sebab dan hal yang tidak bisa dijelaskan Pulau Weh berpisah dari pantai Aceh. Ada yang beranggapan bahwa “Weh” dibaca “W” karena Pulau Weh atau Sabang berbentuk angka “W”.

Sebagian jejak sejarah di Sabang itu dapat dilihat dari foto-foto “Sabang Zaman Dulu” yang dipublikasikan lewat laman pusakaindonesia.pnri.go.id. Di antaranya, foto Markas Besar Sabang tahun 1925, Rumah Kepala Administrasi Sabang, Kantor Negara/Pemerintah, kondisi Pelabuhan Sabang, dan lokasi-lokasi penting lainnya. Pada foto-foto “Sabang Tempo Dulu” koleksi Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh itu turut ditulis keterangan singkat dalam bahasa Belanda. Berikut foto-foto peninggalan Sabang pada era penjajahan Belanda :

Kami berlayar menyusuri tepi barat Sumatera dan nyaris kandas pada karang-karang Pulo Way (Pulau Weh) dan seandainya laut pada waktu itu tinggi, rasa-rasanya kami tidak bakal bisa selamat, De Graff.

Masa keemasan pelabuhan bebas Sabang berakhir dengan masuknya Jepang tahun 1942. Negara Matahari Terbit ini menjadikan Sabang sebagai basis pertahanan utamanya dengan menempatkan 6.000 angkatan laut. Konsekueansinya, Sabang menjadi sasaran serangan dari sekutu dan hancur setelah dibombardir oleh kapal perang SS. Tromp pada 1943.

Bagi Anda yang mengenal Sabang dengan keindahan pantainya, Anda dapat mengarungi dalamnya sejarah Sabang dari masa kolonial belanda hingga sekarang.

Facebook Comments

Reviews

  • 5
  • 5
  • 1
  • 8
  • 4
  • 4.6

    Score