Pin It
Search
Monday 17 December 2018
  • :
  • :

Makam Abuya Tgk. Syekh H. Muhammad Syam Marfaly

Seperti umumnya pada masyarakat Aceh, pendidikan dasar yang diperoleh seorang anak dalam keluarga adalah diberikan dari orang tua mereka, terutama yang berhubungan dengan pendidikan agama dan akhlak. Di samping itu juga,Abu juga belajar di Sekolah Rakyat (SR) di Blangpidie tapi tidak selesai karena terhimpit factor ekonomi keluarga yang tidak mendukung dan juga disebabkan oleh meninggalnya Ayah beliau.

Setelah Abu berhenti sekolah Abu membantu orang tua ,yaitu bertani dan pada tahun 1955 Abu berdagang di Blangpidie. Karena aktifitas Abu di Blangpidie dekat dengan Mesjid Jamik Blangpidie, maka beliau pun menjadi salah seorang jama’ah Mesjid tersebut. Karena rutin mendengar ceramah dan pengajian dari Abuya Tgk. T. Syeh Mahmud bin Tgk. Ahmad (Pendiri/pimpinan Dayah Bustanul Huda) maka beliau tertarik untuk pergi mengaji.

Maka pada tahun 1958 Abu berangkat ke Dayah/Pesantren Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan pimpinan Abuya Tgk. Syekh Muhammad Muda Waly Al-Khalidy untuk menimba ilmu. Abu belajar dan mengajar di Darussalam selama 17 tahun lamanya.

Setelah selesai Abu di Darussalam maka pada tahun 1975 Abu menikah dengan Hj. Rusnida asal desa Blangporoh Labuhan Haji Aceh Selatan dan dari perkawinan tersebut beliau dikarunai tiga orang anak,yaitu : Nurbaiti Syam Marfaly, Nur Asyqiyati Syam Marfaly dan Tgk. H. Muhammad Qudusi Syam Marfaly.

Memimpin Dayah dan Perjuangan

Dayah Bustanul Huda merupakan salah satu Dayah tua dipantai Barat Selatan Aceh. Pada mulanya Dayh ini bernama Jami’atul Muslimin yang didirikan oleh Tgk. Syeh Ismail (tidak diketahui tanggal dan tahun yang jelas) yaitu pada masa penjajahan Belanda di Aceh yang lokasinya di Mesjid Jamik Agung Blangpidie sekarang. Setelah Tgk. Syeh Ismail berpulang Kerahmatullah maka Dayah Jami’atul Muslimin dipimpin oleh tgk. Yunus Lhong seorang Ulama dari Lhong Aceh Besar. Pada saat pergolakan Tgk. Peukan di Blangpidie yang disaat itu Tgk. Peukan syahit, maka Tgk. Yunus Lhong mengubur Tgk. Peukan sebagai mana layaknya meninggal seorang syuhada yaitu tanpa dimandikan dan dikafan. Maka pemerintah Hindia Belanda pada saat itu mencap Tgk. Yunus Lhong seorang yang berdiri dipihak pemberontak sehingga Belanda tidak mengizinkan Tgk. Yunus Lhong untuk tinggal di Blangpidie.

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna