Pin It
Search
Thursday 6 August 2020
  • :
  • :

Gua Ek Gleuntie: Saksi terjadinya Tsunami Aceh 7500 tahun lalu

Terletak sekitar 100 meter dari bibir pantai, mulut gua itu mengangga selebar satu kali gawang sepak bola, dengan tinggi mencapai 15 meter. Di sampingnya beberapa pohon dan semak belukar tumbuh. Sedikit ke dalam, semakin lebar.

Gua yang jarang dijamah mendadak terkenal, setelah para peneliti dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Earth Observatory of Singapore (EOS) menemukan jejak tsunami purba di dalamnya. Gua yang terletak sekitar 60 kilometer dari Banda Aceh, berada dalam kawasan Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong. Warga setempat menyebutnya dengan nama Gua Ek Gleuntie (kotoran kelelawar).

Semakin ke dalam, gua horizontal tersebut semakin lebar hampir tiga kali lapangan volley. Tingginya beragam, antara 10 – 20 meter. Semakin jauh, gua berletel L semakin gelap. Kelelawar yang terusik terbang lalu-lalang.

Peneliti dari Earth Observatory of Singapore, Charles Rubin mengklaim telah menemukan jejak tsunami purba yang terjadi di Aceh. Temuan berharga ini, bisa menjadi petunjuk untuk memprediksi kapan peristiwa serupa itu akan terulang.

Apakah dalam rentang waktu berabad-abad, ataukah hanya berselang beberapa dekade saja?

Adapun informasi berharga ini, diperoleh dari temuan sebuah gua yang lokasinya tak jauh dari sumber tsunami dahsyat yang dipicu gempa besar pada 2004 lalu. Di gua tersebut, terdapat jejak-jejak gelombang besar yang diperkirakan berusia sekitar 7500 tahun. Ini merupakan petunjuk berharga yang bisa menjadi sumber prediksi siklus bencana. Temuan itu disebutkan memiliki jejak rentetan siklus tsunami aling rinci yang terjadi dari ujung barat Pulau Sumatera di Aceh. Di tempat inilah, bencana dahsyat berupa gelombang tsunami setinggi 30 meter pernah meluluhlantakan Aceh pada 26 Desember 2004 lalu.

Tsunami itu, dipicu oleh gempa dahsyat berkekuatan 9,1 SR. Akibatnya, 230 ribu orang dilaporkan tewas. Dari jumlah itu, setengah diantaranya berada di Aceh yang menjadi kawasan terparah akibat tsunami ini.

The China Post melaporkan bahwa gua yang terbentuk dari kapur ini, terletak hanya beberapa ratus meter saja dari pantai yang berada di Banda Aceh. Gua ini terlindungi dari badai dan angin, hanya gelombang besar yang menggenangi kawasan pesisir saja yang mampu menyemburkan api hingga ke dalam gua.

Sementara itu, di tahun 2011 lalu, para peneliti juga menemukan deposit pasir dari dasar laut yang tersapu hingga ke dalam gua. Pasir ini tersimpan di dalam gua selama ribuan tahun, dan diketahui membentuk susunan yang rapi berlapis yang bercampur dengan kotoran kelelawar.

Namun bagi para peneliti, ini menjadi bukti penting bagaimana memetakan urutan waktu kejadian bencana tersebut.

Yang mengejutkan, dari hasil perhitungan radio karbon terhadap sisa pasir, kulit kerang dan sisa organisme mikroskopis lainnya, peneliti menyebutkan bahwa ada 11 kali peristiwa tsunami yang sama sebelum terjadi tsunami tahun 2004 lalu. Charles menyebut bahwa yang terakhir, terjadi sekitar 2800 tahun yang lalu. Namun ia juga memprediksi setidaknya ada empat kali tsunami dalam kurun waktu 500 tahun terakhir. Para peneliti yakin bahwa telah terjadi dua kali gempa dahsyat antara tahun 1393 dan 1450.

Adapun, para peneliti masih terus mencoba menggali informasi untuk menentukan seberapa besar gelombang yang masuk hingga ke gua. Ia menambahkan bahwa temuan gua itu diketahui secara kebetulan lantaran bukan bagian dari kerja lapangan yang mereka rencanakan sebelumnya.

Tsunami yang terjadi di masa itu diduga ikut mempengaruhi sejarah perpindahan pusat kerajaan masa lampau. Saat penggalian, ada keramik yang diperkirakan keberadaannya sekitar tahun-tahun tersebut. Pada bagian-bagian keramik, banyak ditemukan sisa pasir tsunami yang dapat diteliti umurnya.

Ada dua kali perpindahan pemukiman warga di sekitar Ujong Pancu, yang juga meninunjukkan pada tahun 1390-an dan 1450-an. Artinya, wilayah pantai tersebut tergerus oleh gelmbong raya. Pembuktian itu semakin kuat dengan tsunami 2014 lalu, sebagian wilayah Ujong Pancu tergerus kembali dan pemukiman warga semakin bergeser ke darat. Di sekitar Ujong Pancu, pihaknya juga pernah menggali untuk meneliti sedimen tsunami. Tetapi tidak ditemukan sedimen yang dapat merekam jejak itu.

Facebook Comments


batatx

Segalanya penuh warna