Pin It
Search
Thursday 19 October 2017
  • :
  • :

Cerminan “Krong Bade” sebagai rumah warisan pusaka aceh

Sejarah Adanya Rumoh Krong Bade Sudah Ada Sebelum Tahun 1341 H / 1923 M, Pendirian Rumoh Krong bade ini Bukan Semata mata Sebagai Tempat Tinggal semata, Akan tetapi Merupakan Cerminan  keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam,Serta Jati diri Suatu Masyarakat Aceh.

  1. Aspek Hukum Agama (Religius)

Desain Bangunan Rumoh Krong Bade mempunyai arah yang sama yaitu Bangunan menjulur dari timur ke barat. Arah Itu Sengaja Ditetapkan dengan Asumsi Untuk menghadap arah kiblat, Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka’bah yang berada di Mekkah.

Rumoh Krong Bade sengaja dibangun dengan Tinggi 2,5 sampai 3 Meter Dari Permukaan Tanah, hal tersebut dikarenakan Supaya Masyarat dapat Lebih Mudah menentukan fajar shadeq (waktu subuh) yang terbit dari Ufuk timur,serta untuk menentukan Waktu shalat Maghrib mulai terbenamnya matahari hingga hilangnya syafaq, yaitu cahaya kemerah-merahan.

Di dasar Tangga ( Gaki Reunyeun ) Terdapat Satu kendi (guci) yang sengaja diletakkan, Peletakan Kendi Tersebut bertujuan untuk Menyucikan Kaki dari najis atau  kotoran – Kotoran hewan yang menempel pada kaki.

Arsitektur Rumoh Krong Bade terbagi 2 bahagian Yaitu bahagian Yang Bersifat Privasi dan Bagian Umum dan terbuka. Bangunan yang bersifat Privasi tersebut adalah Bilek Teungoh (Rambat), didalam bilek teungoh terdapat Sandeng yaitu Tempat yang di buat Secara Khusus Untuk Menyimpan Kitab – Kitab dan  Kitab Suci Al-Qur’an.

Bilek teungoh Terbagi 2 Yaitu Bilek Timue dan Bilek Barat. di dalam bilek timeu terdapat rumoh inong (Bilek Peureumoh) Yang diperuntukkan Bagi Kepala Keluarga atau Pengantin Baru.

Pada Seni Ukir, Sebahagian Juga didominasi oleh Ukiran – Ukiran Religius (Kaligrafi Islami), Seni Ukir Kaligrafi Islami Ini pada Umumnya terletak Pada Tolak Angin yaitu Ukiran Tertinggi pada Suatu bangunan. Ukiran kaligrafi tersbut dimaksudkan Sebagai cerminan Kecintaan terhadap Agama Islam Memiliki Urutan Tertinggi dari Masyarakat Aceh.

  1. Aspek Sosial Budaya

Dalam Aspek Sosial, ternyata Rumoh Adat Krong Bade Yang dijadikan sebagai Warisan Rumah Adat Provinsi Aceh ini Mempunyai Kontribusi dan Peranan Penting dalam Pencitraan Suatu budaya daerah, Hal itu tercermin pada Struktur pintu bangunan Dari Rumah krong Bade yang yang dominan lebih kecil, Biasanya tinggi pintu sekitar 120 – 150 cm yang bertujuan kepada tamu harus memberi saleum Horeumat pada Ahli bait (salam hormat pada pemilik Rumah) tanpa mengenal Kasta dan Kelas Ekonomi.

Selain itu Pinto Rumoh Krong Bade Juga Merupakan Cerminan dari jati diri masyarakat Aceh yang Keras (Tegas) dan Susah Di ambil hati, namun apabila pendekatannya dengan tulus,maka Situasi Akan Berbalik  180 derajat, Hal ini terlihat berdasarkan Bentuk dan ukuran pintu tersebut yang Benar2 sulit untuk kita masuki, akan tetapi,pabila kita masuk dan tiba di Serambi depan (seuramoe keu) maka Kita akan berubah pikiran , akan kita dapati ruangan yang begitu luas dan lapang serta ahli bait Menyambut lapang dada.

Sesuai Dengan Hadih Maja Aceh: Mulia Wareeh Ranup Lampuan, Mulia Rakan Mameh Suara.

Selain itu Juga Disediakan Satu Bilek Yang Digunakan untuk Kegiatan Sosial Dalam Masyarakat Aceh, yaitu Bilek Barat, Bilek barat di gunakan untuk Kegiatan upacara – upacara adat dan kegiatan social lainnya, baik “sunat rasul” (khitan), perkawinan, Madeung (Kunjungan Kaum Ibu – ibu Pada Orang Melahirkan)  maupun kematian (memandikan Jenazah). Langit- langait pada Bilek barat di lapisi dengan kain berwarna merah yang disebut “tire Dilanget“, demikian pula pada dinding – dinding bilek Yang di sebut “tire lingka” (tirai lingkar) dengan warna-warni dan bentuk pola yang disebut “kureng” (lajur-lajur), “ceuradi” serta “mirahpati”.

Demikan Pula Dengan Perilaku social dalam keluarga, Seandainya Seorang Kepala Keluarga Mempunyai Anak Perempuan, Maka Ketika Anak perempuannya Menikah Bilek Peureumoh  (Bilik Timur) Diambil Alih Oleh Sang Anak dan Orang Tua Mengungsi ke Anjong Atau Bilek Barat. Selanjutnya jika ada anak perempuannya yang kawin dua orang, orang tua akan pindah ke seuramoe likot, yang terletak di Dekat Dapur. Selama rumah yang dihuni Belum di rombak Atau Pihak Sang Menantu Belum mampu membangun  Rumah.

  1. Aspek Keamanan

Pembangunan Rumoh Krong Bade Juga Sangat Mempertimbangkan Aspek Keamanan Hal tersebut Dapat dilihat dari mayoritas Rumoh Krong bade dilengkapi Oleh Burung balam “leuek atau “meureubok” (perkutut) yang dimanfaatkan sebagai alaram peringatan. Karena burung balam dan perkutut sangat peka terhadap orang luar yang ingin bertamu.

Dari Perancangan atap masyarakat aceh juga sangat Teliti dengan adanya kemungkinan musibah kebakaran rumah, dikarenakan bahan yang digunakan adalah bahan yang sangat cepat terbakar,maka Mekanisme pemasangan atap rumoh krong bade  hanya di ikat dengan 1 simpul. Apabila Terjadi musibah Kebakaran maka sipemilik rumah bias langsung memotong simpul dan atap daun rumbia yang terbakar akan terurai kebawah.

Arsitektur Rumah krong bade juga merupakan rumah yang tahan akan terjadi musibah gempa bumi hal itu terlihat dari striktur bangunan yang tidak menggunakan paku, semua Penyambungan Struktur bangunan Hanya menggunakan pasak dan pengikat berupa rotan yang sudah di olah.

 

  1. Aspek ekonomi

Rumoh bade krong juga sebagai media penunjang sector ekonomi warga, kemampuan itu terlihat jelas dengan adanya jeungki (Penumbuk padi) di bagian bawah bangunan (iyup moh), apabila terjadi hujan bagian bawah bangunan juga difungsikan untuk mengeringkan padi sebelum di tumbuk menjadi beras ataupun tepung. Dan ketika musim kemarau tiba, kaum wanita memberdayakan sector ekonomi dengan menenun kain dengan memanfaatkan bahagian bawah rumah itu pula.

Facebook Comments